Rohis Tazakka SMK Negeri 1 Bantul

"Fi Thoriqil Islami Jihaduna"

Assalamu'alaikum

Perkenalkan, kami dari Rohis Tazakka SMKN 1 Bantul mempersembahkan sebuah blog yang bertujuan untuk media penyampaikan informasi kegiatan, dakwah dan juga sebagai media mempererat ukhuwah di berbagai kalangan, khususnya pelajar.

Berikut profil singkat kami

Rohis Tazakka SMKN 1 Bantul merupakan suatu organisasi di bawah OSIS sekbid Ketaqwaan. Pada awal pembentukannya, nama Takmir Musholla Ath Tholibin lah yang dipilih menjadi nama organisasi ini sebelum berubah nama menjadi Rohis Tazakka. Nama Tazakka diambil dari QS Al A'la ayat 14 yang berarti membersihkan diri. Hingga saat ini sudah ada 13 generasi yang telah mengabdikan diri bersama Rohis Tazakka.

Perjuangan dakwah tidak akan terhenti apabila sudah menjadi alumni. Ini dikarenakan Rohis Tazakka memiliki organisasi khusus alumni Rohis yang bernama FORMASSKA ( Forum Alumni Rohis SKANSABA ) yang masih terus aktif dan membantu para pejuang muda Rohis SMK Negeri 1 Bantul.

Rohis Tazakka mempunyai jargon Fii Thoriqil Islami Jahadna yang artinya Di Jalan Islam Kami Berjuang. Organisasi ini mempunyai visi mewujudkan warga SMK yang cerdas dan berakhlak mulia, sedangan misinya ialah berjuang dengan niat karena Allah swt.

Info lebih lanjut hubungi kami di
Facebook : Rohis Tazakka
Twitter : @Rohis_Tazakka
Instagram : @rohistazakka

Ibu, Oh Ibu

Oleh Desriani

Assalamualaikum wr wb......

Nama saya Desriani saat ini lagi studi di Tokyo.....Tulisan ini dibuat oleh adik saya Dian Hafizah......Saya pengen pembaca yang lain juga menikmati tulisan Dian.....semoga ada hikmah yang bisa dipetik.......
Saat saya mencoba membuat tulisan ini agak bingung juga awalnya. Tidak tahu mulai dari mana hanya berusaha mencoba mengarang-ngarang apa kira-kira yang akan saya tuliskan, karena sepertinya tidak ada darah pujangga yang mengalir dalam darah saya dan saya pun menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa pemilihan kata-kata saya sangatlah terbatas jika tidak mau dibilang sangat payah, apalagi yang akan dibahas topiknya adalah suatu yang istimewa bagi orang banyak yaitu tentang ibu.
Sebetulnya tema ini adalah sesuatu yang tidak pernah basi untuk dijadikan inspirasi, bagaimana tidak, mulai dari puisi, lagu hingga ke kata-kata indah di dalam blog, koran maupun majalah banyak yang mengagung-agungkan betapa mulianya peran seorang ibu sebagai pelindung, pengayom dan tempat anak-anaknya mengadukan semua masalahnya. Dulu sewaktu kecil saya pernah mendengar lagu dari penyanyi yang saya lupa namanya, liriknya sederhana namun sangat menyentuh hati

   “Ibu, ibu,........
    engkaulah ratu hatiku,
    bila kuberduka,
    engkau hiburkan selalu,
    ibu, ibu.......”

 
Saat saya menulis tulisan ini pun sayup-sayup saya mendengar lagu Melly Guslow berjudul bunda yang terkenal itu dari telepon genggam teman saya yang menjadikan lagu itu sebagai nada deringnya. Begitu banyak semua penghargaan dan semuanya itu didedikasikan bagi ibu seorang.
Ironisnya waktu saya kecil dahulu pernah terlintas pikiran bahwa apa yang dilakukan oleh seorang ibu dalam mengasuh dan merawat anaknya adalah sudah sewajarnya dilakukan oleh setiap wanita yang memiliki anak. Semua orang melakukannya dan bila kelak saya sudah besar sayapun akan melakukan hal yang sama. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya yang dibesarkan oleh ibu yang dalam anggapan saya adalah biasa saja sebenarnya adalah orang yang benar-benar beruntung. Bagaimana tidak karena kenyataannya banyak wanita yang membuang bayi dan menelantarkan anak-anaknya atau bahkan mengeksploitasi anak itu untuk kepentingan mereka sendiri. Terus apakah mereka bisa dipanggil sebagai ibu? entahlah....
Apakah anda pernah merenung tentang oksigen yang terdapat bebas di alam raya sebagai tanda kasih sayang tuhan kepada kita. Udara itu selalu memenuhi rongga dalam tubuh kita dan mengalir dalam aliran darah kita tanpa kita sadari. Namun pasti tak pernah kita membayangkan apa yang terjadi bila kita satu menit saja tanpa udara, maka apakah yang akan terjadi. Kasih sayang seorang ibu itu tidak ubahnya seperti udara yang selalu kita hirup tadi. Ia juga adalah hadiah yang diciptakan Tuhan untuk kita. Tapi kadang kala keberuntungan itu memang kurang bisa kita disyukuri karena sudah bertahun-tahun kita nikmati, sehingga yang terjadi kita malah selalu merasa kurang dan menganggap itulah yang seharusnya terjadi.

Sedari tadi saya menyinggung-nyinggung tentang keistimewaan ibu seolah olah beliau adalah seorang yang tak boleh melakukan salah. Sama sekali tidak seperti itu, bagaimanapun ibu bukanlah malaikat tanpa cela dan noda. Seorang ibu adalah manusia biasa juga yang pasti ada salah dan khilafnya. Ibu saya pun begitu pula. Namun hal itu tidak menghalangi saya untuk memenuhi masa kecil saya dengan mozaik-mozaik yang berisikan pengalaman-pengalaman baik suka maupun duka bersama dengan ibu saya.
Saya teringat pernah suatu ketika saya yang usia siswa sekolah dasar mengejar-ngejar ibu yang dengan “teganya” meninggalkan saya yang notabene adalah anaknya.

Ups.... jangan salah sangka dulu bahwa ibu saya tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, karena waktu itu ibu saya yang berprofesi sebagai guru sudah terlambat mengajar dan saya yang akan berangkat sekolah (yang pastinya terlambat juga ) masih sibuk mencari pasangan kaus kaki yang hanya sebelah padahal ibu saya sudah jauh hari mengingatkan untuk menyiapkan keperluan besok paginya tapi tidak saya lakukan. Waktu itu saya sempat protes kenapa ibu saya bukan ibunya teman saya yang pastinya akan mempersiapkan kebutuhan anaknya alih-alih menyuruh anaknya mempersiapkan kebutuhannya sendiri sambil menangis bombay di tepi jalan sampai akhirnya berhenti sendiri karena malu dilihat orang (he he he akhirnya saya tidak jadi sekolah hari itu dan akhirnya dimarahi oleh ayah saya).

Atau pada saat saya marah-marah karena ternyata cokelat yang saya sayangi dan dimakan sehemat mungkin hingga diharapkan bisa bertahan dalam waktu yang lama dan sudah saya sembunyikan dengan baik di dalam lemari baju tiba-tiba raib entah kemana. Usut punya usut ternyata keberadaannya diketahui sudah berada dalam perut ibu saya.
Kenangan lain yang saya ingat adalah bagaimana setiap hari ibu saya selalu menyisir rambut saya yang panjang. Jangan bayangkan rambut saya lurus dan bagus karena secara saya itu anak SD yang sebenarnya belum mampu mengurus rambut sendiri sering kali rambut saya kusut dari pada rapinya tapi tetap saja saya bersikeras tidak mau memotong rambut saya, maka kemudian ibu saya bercanda bilang bahwa rambut yang tidak mau diatur itu mencerminkan hati yang kusut pula dan karena saya anak kecil yang tidak tahu arti candaan malah menanggapinya serius dan bersungut sungut karena dibilang kusut hati padahal keesokannya tetap saja akhirnya saya mencari ibu untuk menyisirkan rambut saya lagi.

Namun dari semuanya itu saya juga teringat saat ibu saya selalu menunggui saya yang memang selalu penyakitan sedari kecilnya. Pernah saya untuk pertama kalinya pulang ke rumah naik bus sendirian dari kota tempat saya kuliah ke kampung pada malam hari pula, dan kemudian langsung masuk angin dan muntah-muntah. Ibu lalu mengusapkan balsem ke dada dan punggung saya dan menunggui saya semalaman. Itu baru masuk angin, coba bayangkan apa yang dilakukan oleh ibu saat asma saya kambuh malam buta dan saya kesulitan bernafas padahal penyebab asma saya kambuh adalah karena saya melanggar pantangan dokter dengan minum es sembunyi-sembunyi di siang hari.
Atau saat ibu memberikan saya entah itu makanan ataupun buah-buahan dan kemudian kami memakannya berdua secara sembunyi-sembunyi. Jangan beranggapan bahwa tidak ada makanan di rumah kami karena sebetulnya setiap hari saat ibu pulang berbelanja pasti ibu selalu membawa makanan berupa camilan dalam jumlah yang banyak antara lain tape, lemang, kerupuk, sate, berbagai macam es, dan berbagai macam buah sesuai dengan musimnya, namun ada beberapa makanan favorit yang hanya bisa diakses oleh ibu saja. Dasar namanya anak-anak walaupun banyak makanan lain namun apabila bisa memakan makanan yang disembunyikan ibu membuat saya merasa diistimewakan dari saudara-saudara yang lain. Pada saat saya sudah agak besar saya baru tahu bahwa ibu juga membeli makanan “istimewa” tadi dalam jumlah yang banyak dan memastikan semua anaknya dapat makanan “istimewa” itu.

Saya dan saudara saya juga sering berburu harta karun di rumah. Yang dimaksud harta karun ini makanan yang disembunyikan oleh ibu antara lain berbagai macam permen, milkshake, kopi instan, dan berbagai macam jenis kacang-kacangan dan makanan favorit ibu manisan buah pala, tentu saja hal ini berlangsung tanpa sepengetahuan ibu. Harta karun ini tersebar di berbagai tempat di rumah antara lain di laci meja, di dapur, dalam kaleng, dibalik pintu dan tentu saja di dalam lemari di bawah tumpukan baju (nah sekarang tahukan bakat siapa yang saya warisi....).
Selain membeli makanan ibu juga rajin sekali membuat berbagai macam kue, seingat saya selalu ada persediaan tepung terigu, gula dan telur di rumah. Sore-sore ibu membuat bolu atau bubur kacang hijau atau bila bakat eksploitasi ibu lagi meningkat ibu kemudian mencoba resep-resep aneh di majalah. Saya sering bertindak sebagai asisten ibu biasanya sebagai tukang timbang atau tukang bakar dan yang paling sering adalah sebagai tukang cuci piring (salah satu tugas yang tidak saya favoritkan). Saat saya dewasa bakat ini kemudian menurun ke saya.
Walaupun ibu membuat camilan dalam jumlah banyak (bayangkan saja ibu selalu membuat bubur kacang hijau satu panci besar) namun pasti selalu habis dan anehnya selalu saja ada yang mengaku belum dapat (atau belum dapat banyak). Untuk mengantisipasinya biasanya ibu menyisihkan sebagian makanan tersebut sehingga apabila ada yang komplain bisa minta lagi pada ibu.

Bila kita bicara tentang kerajinan yang dilakukan oleh ibu, salah satu hal lain yang rajin dilakukan oleh ibu waktu kami anak-anaknya masih kecil adalah mencari kutu. Bukan jorok atau apa tapi karena kami tinggal di kampung yang notabene anak-anaknya tidak dibesarkan secara higienis masih banyak anak-anak yang kutuan dan karena kutu itu menular maka migrasi kutu antar kepala satu dengan yang lainnya tak terhindarkan. Jadi hipotesisnya kalau anda ingin populer dan mempunyai banyak teman maka kutuan adalah resiko yang harus anda terima. Ditambah lagi dengan kutu yang dibawa oleh kakak saya yang tertular dari teman kosnya (kakak saya yang tertua kuliah di kota yang berbeda) maka populasi kutu di kepala kami pun bertambah padat dengan pertumbuhan penduduk yang bertambah secara signifikan. Waktu itu belum ada peditox jadinya proses pembasmian kutu dilakukan secara manual dan kontinu oleh ibu dengan bersenjatakan sisir yang rapat dan dialas dengan kain putih bekas popok adik bayi saya. Akibat insiden kutu ini pulalah kemudian saya merelakan rambut panjang nan kusut masai tapi saya sayangi dipotong pendek ala cowok.
Banyak lagi kenangan lain yang saya lalui bersama ibu di samping saya, seperti pada saat saya ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri di kota, sepertinya hanya saya satu-satunya peserta ujian yang ditunggui oleh ibu, walaupun diolok-olok oleh teman saya tapi keberadaan ibu di luar ruang ujian merupakan obat mujarab yang mampu menenangkan hati saya yang bergemuruh (ternyata belakangan baru saya tahu bahwa ibu tidak menunggu di luar kelas saat saya ujian karena beliau pergi berbelanja ke pasar dan kemudian kembali lagi saat ujian hampir selesai ). Bahkan kebiasaan diantar dan ditunggui ibu masih berlanjut sampai saat saya akan menyusun skripsi, ibu dengan setia menemani saya mengumpulkan data ke petani bahkan ikut hadir dan menimpali tanya jawab yang saya lakukan dengan petani tersebut (“Serasa penelitian S3” kata beliau). Tentu saja saat yang paling membahagiakan dan yang bisa saya banggakan adalah saat ibu menghadiri wisuda saya. Pastinya wisuda bukanlah suatu akhir tapi adalah satu pintu untuk memulai tahapan baru dan saya senang karena bisa mempersembahkan momen tersebut untuk ayah dan ibu saya.


Hingga akhirnya saya seperempat abad begitu banyak kenangan yang tidak akan terlupakan. Sekarang saya berada jauh dari ibu sehingga barulah kemudian saya menyadari betapa beruntungnya saya jadi bagian dari hidup beliau. Saat ini kami lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan telepon saja. Beliau sering menelepon hanya untuk menanyakan kabar dan apakah saya sudah makan atau belum. Suatu kali beliau bercerita bahwa bubur kacang hijau yang dibuatnya hanya setengah dari porsi yang biasanya tidak jua habis padahal sudah dua hari terletak dalam kulkas. Kebiasaan beliau menyembunyikan “harta karun” juga masih saja dilakukan sampai sekarang padahal tidak ada lagi yang akan menghabiskan.
Saat-saat yang paling saya tunggu adalah saat musim liburan dan ada kesempatan pulang, saat itulah kami anak-anak beliau berkumpul lagi dan rumah kembali ramai, dan itu artinya perburuan harta karun pun berlangsung dan ibu dapat menyalurkan hobinya membuat camilan walaupun kemudian sering ngomel-ngomel karena belum sempat mencicipi makanan yang dibuatnya sementara camilannya itu sudah habis duluan. Dan saat masa itu tiba dengan semua kehebohan yang terjadi tidak pernah terpikirkan lagi bahwa andaikan ibu saya berbeda dari yang sekarang ini.
Demikianlah sepenggal kisah yang saya lalui bersama dengan ibu diantara banyak kenangan lain yang tak terlupakan, ada suatu quote yang pernah saya baca menginspirasi saya untuk membuat puisi
Ibu saya bukanlah Khadijah yang melahirkan generasi penerus nabi,
bukan pula ibu Iqomah yang maafnya seluas samudra,
Ibu saya hanyalah ibu diakhir jaman,
Yang meregang nyawa melahirkan generasi penerus darahnya,
Dalam maafnya ada pengampunan,
Dalam salahnya ada pembelajaran,
Air susunya mengalirkan kehidupan;
Karena anaknya adalah kesayangan.

Lanjutkan Membaca..

Ayahku, Idolaku

Oleh Bayu Gawtama

Saya akan senantiasa mengecup kening, pipi dan ubun-ubun kepalanya di pagi, siang, dan malam hari. Sejak ia baru membuka matanya di waktu fajar hingga menjelang menutup mata. Bahkan saya bangunkan ia dengan beberapa kecupan hangat, agar senyum manisnya lah yang membuka paginya. Andai ia tahu, di setiap pertengahan malam saat ia terlelap dibuai mimpi pun akan selalu ada kecupan lembut menghangatinya. Saya lakukan itu agar sampai kapanpun ia takkan pernah lupa, ada sosok penuh cinta yang setiap tuturnya bermakna sayang, dan setiap dengusan nafasnya berarti kasih.
Saya akan menjadi apapun untuknya. Kadang menjadi harimau yang menerjang-nerjang dengan auman keras yang membuatnya berteriak, sesekali menjadi kodok yang melompat-lompat lucu, atau menjadi burung yang hinggap dari satu ranting ke ranting lainnya. Pagi hari menjadi ayam ber-kukuruyuk membelah fajar dan malamnya menjadi bintang-bintang yang menemani tidurnya hingga malam berlalu. Saya tak akan bosan mendongeng untuknya kapan pun, dimana pun, kalau perlu sampai ia bosan. Walau pun saya tahu, sebanyak apapun cerita yang saya dongengkan, ia takkan pernah bosan. Baginya, sayalah pendongeng terhebat di dunia. Yang mampu membuatnya tertawa tergelak dan terkekeh, kadang membuatnya menjerit ketakutan, atau memaksanya mengeluarkan air mata.
Berangkat bersama fafar yang beranjak pergi, pulang dari kantor ditemani lampu jalan dan dinginnya malam. Pekerjaan apa pun rela saya tempuhi untuk sebuah keyakinan ia mendapatkan makanan yang baik, cukup dan halal, setidaknya untuk hari ini. Untuk sebuah harapan agar ia mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya. Inilah bentuk pengorbanan yang tak pernah saya meminta balasan apa pun darinya kelak. Bagi seorang Ayah, mendapati senyum si buah hati tetap menghiasi hari-harinya, itu sudah cukup.
Sahabat. Inilah kata yang selalu saya sebutkan kepadanya tentang siapa saya. Saya bukan sekadar Ayah baginya, melainkan sahabat. Saya akan menjadi sahabat terbaiknya, yang menyediakan hati sehamparan bumi dan telinga seluas lautan. Yang akan mendengarkan semua kesahnya dan menampung sebanyak apapun airmatanya. Yang akan bersedia menangis bersamanya saat ia sedih, dan tertawa bersamanya di hari-hari bahagianya. Yang akan senantiasa hadir untuknya kapan pun, dimanapun ia membutuhkan. Dada ini setegar karang di laut yang siap menjadi tambatan kepalanya, dengan segunung persoalan yang dihadapinya.

Dalam setiap sujud dan tengadah jemari, namanya tak pernah alpa terucap. Sepanjang doa yang terlantun, tak pernah sekalipun namanya terlupa. Kepada Allah senantiasa terpinta agar seribu malaikat membimbing setiap jengkal langkahnya, agar sejuta cahaya tak pernah padam menerangi jalannya, dan tak terbilang tangan menjaganya dari jalan yang menyimpang. Tak jarang, airmata ini menetes tak tertahan memandang wajah polosnya, berharap tak banyak dosa yang mengotori perjalanan hidupnya, meminta tak banyak aral melintangi langkah kecilnya, dan tak tersebar onak yang akan menghambat jalannya. Kebahagiaannya, adalah kata kunci dalam setiap pinta saya kepada Allah.
Saya sadar betul, tak patut berharap ia akan membalas cinta seperti yang saya curahkan kepadanya. Apalah lagi menakar-nakar agar ia tahu betapa tak terhitung kasih yang saya berikan kepadanya. Pun tak mungkin saya menuntutnya untuk mengganti semua peluh yang bercucuran untuknya. Tak sedikit pun saya meminta bayaran untuk setiap airmata yang luruh sepanjang hidupnya semenjak kecil. Bukan karena saya tahu ia takkan pernah sanggup membayarnya, tapi sekadar ia tahu bahwa cinta ini begitu tulus, jujur, bersih namun sederhana. Tak ada yang sanggup menggantinya, berapapun yang ditawarkannya.
Sungguh, saya melakukan ini semua demi satu harapan. Kelak sampai kapan pun ia tak perlu mencari figur lain yang ia banggakan, tak sulit untuk menyebut sosok yang ia dambakan kehadirannya, yang ia tangisi kepergiannya. Karena, sampai kapan pun ia akan berkata kepada dunia, “Ayahku, Idolaku”.

Coretan kecil untuk anak-anak Abi

gawtama.blogspot.com

Lanjutkan Membaca..

Bila Waktunya Telah Tiba

Oleh Muhammad Hisyam

Masih terngiang di telinga saya teriakan-teriakannya yang berusaha mencuri perhatian, gaya-gayanya yang mengundang gelak tawa, atau pertanyaan-pertanyaanya yang sangat berbeda dengan anak-anak usia sebayanya, aktifitasnya yang lincah, bahkan tidak sedetik pun diam kecuali di situ dia mengerjakan satu permainan. Terkadang saya dibuatnya terheran-heran atas kecerdasannya melihat sebuah persoalan. Sampai suatu saat ketika ayahnya ’tidak pulang’ selama 2 hari, dia berkata-kata dengan tembok, ”Kok ayah ndak pulang ya, apa ayah marah sama saya, Ma”. Sangat lucu.
Ya, dia adalah putra dan putri sahabat saya. Keluarga muda yang hidup penuh kesederhanaan, kearifan dan kesabaran mengahadapi setiap masalah. Sebuah keluarga yang selalu menjadikan keimanan dan ketakwaan dalam melandasi setiap pemecahan problem tak terkecuali terhadap anak-anak mereka.
Sabtu yang lalu, saya berkunjung ke rumahnya. Di kawasan sekitar perumahan Tidar. Waktu itu tujuan saya berkunjung yang pertama adalah silaturahmi, kedua saya memang ingin berkenalan dengan putra putrinya yang setiap hari saya lihat di layar chating-nya, ketiga saya ingin belajar kepadanya karena dalam waktu dekat ini saya akan melangsungkan pernikahan, jadi sebagai studi banding untuk kehidupan keluarga yang akan saya bina kelak.

Saya tiba di rumahnya sekitar jam 14.15 WIB. Biasanya jam ’segitu’ saya masih asyik dengan tut-tut di papan keyboard saya. Tapi karena hari itu Sabtu, saya kerja setengah hari saja, sehingga waktu yang tersisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di rumahnya, saya disambut oleh ’ocehan’ anak pertamanya yang sangat luar biasa. Saya katakan luar biasa karena umumnya anak seusianya cenderung menutup diri dengan kehadiran orang-orang asing di sekitarnya. Tapi tidak dengan anak ini, ia begitu berani menunjukkan eksistensi dirinya di hadapan saya, dengan gayanya khas anak-anak, ia berbicara ’melebihi ambang batas’ karena memang demikianlah anak-anak, suka mencuri perhatian orang asing dan saya hanya tersenyum senang melihatnya. Muhammad Husein Haekal namanya, sungguh indah. Saya sempat teringat dengan nama seorang pengarang buku Sirah Nabi dan buku-buku ke-Islaman lainnya ”Muhammad Khair Haekal”. Semoga kelak engkau seperti beliau atau bahkan melebihinya.

Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00, saatnya Haekal harus mengaji Al-Quraan di sebuah TPQ yang tidak jauh dari rumahnya. Tanpa ba bi bu dan beralasan, ketika mamanya mengajaknya mandi, subhanallah, ia langsung mengerjakannya dan begitu penurut. Sampai akhirnya ia berangkat. Selang beberapa waktu, bidadari kecil sahabat saya terbangun dari mimpinya yang indah, Hafshah dia punya nama. Namun ia masih malu-malu menyambut kehadiran saya, maklum, biasanya bangun tidur memang demikian adanya, tak terkecuali orang dewasa. Tapi saya tetap berusaha agar dia menerima kehadiran saya dan lambat laun kontak kami mulai ada meskipun sang putri malu masih menghinggapi dirinya.
Kebetulan hari itu hujan rintik-rintik, saat yang tepat untuk makan yang hangat-hangat. Alhamdulillah, penjual tahu campur lewat. Sahabat saya pesan dua mangkok besar, satu untuk saya dan satunya untuk dirinya sendiri. Tapi bukan tahu campur dan mangkok besarnya yang menjadi perhatian saya, tapi saat kami makan yang bikin saya cemburu dan iri bahkan ingin segera meraihnya. Ya..., dia begitu kasih, begitu sayang menyuapi sang bidadari kecilnya. Ya Allah, berikanlah saya keluarga yang di dalamnya ada cinta, kasih dan kemesraan yang bersemi indah. Berikan saya buah hati yang dengannya hati kami semakin dekat dengan_Mu, memuji akan Kebesaran_Mu dan syukur atas Karunia_Mu.
Akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, saatnya Haekal pulang dari mengaji. Ia pulang membawa oleh-oleh untuk dirinya dan adiknya. Saya lihat mereka begitu rukun, saling berbagi dengan makanan yang sama, kuning telur puyuh dengan sedikit saus dan kecap dalam sebuah plastik kecil, 500 rupiah harganya.

Saat itu mulailah saya melihat sepasang ’atlet’ mulai beraksi. Locat sana sini, naik sana sini, terkadang tiduran di lantai, naik sepeda pancal, mobil-mobilan dengan mouse, naik motor untuk ojek-ojekan, main plorotan di busa kasur dan banyak lagi yang lainnya. Capekkah mereka, tentu jawabannya tidak. Karena memang sesusia mereka adalah masa-masa aktifnya, masa-masa emas untuk menanamkan pelajaran dan pengetahuan karena kebersihan hati dan otaknya. Saya pun sampaikan ke sahabat saya ”Mas, anak kecil itu kebalikan dari orang tua. Kalo anak kecil lincah dan gesit berarti dia sehat, kalo diam saja berarti dia lagi sakit. Beda dengan orang tua, kalo ada orang tua lincah dan gesit berati dia lagi sakit, tapi kalo diam dan tidak banyak ’tingkah’ berarti dia sehat.”
Waktu pulang pun tiba karena memang tidak ada rencana untuk menginap. Saya berpamitan kepada semua anggota keluarga sahabat saya. Dalam perjalanan pulang, suatu keanehan menghinggapi diri saya, rindu dalam dada saya seolah-olah memuncak, perasaan saya seolah tak ingin jauh dari mereka berdua, Haekal & Hafshah. Bahkan sebelum sampai di rumah, saya mampir ke sebuah wartel untuk menelpon ke rumah sang sahabat. Saya ingin mendengar suara-suara lucu mereka, jawaban-jawaban polos yang mereka berikan seakan menambah besar kerinduan ini.
Ya Allah, sudah waktunya kah saya? Sudahkah saya harus bersiap diri untuk menerima amanah darimu? Sudah waktunya kah saya membangun dan membina sebuah keluarga yang di dalamnya ada sakinah, mawaddah dan rahmah? Keluarga yang menjadikan setiap orang bahagia ketika melihatnya. Keluarga yang akan menguatkan dan memperteguh perjuangan ini. Keluarga yang akan menjadi tameng bagi kami untuk terhindar dari kemaksiatan kepada-Mu?

Ya Allah, jika benar dugaan kami sebagai seorang hamba, maka berikanlah Ya Allah bagi kami kemudahan untuk meraihnya, tunjukkan kami jalan yang lurus untuk menggapainya, bimbinglah hati kami senantiasa agar keluarga yang kami miliki menjadi keluarga teladan sebagaimana keluarga yang dimiliki oleh junjungan kami, Rasulullah Muhammad SAW. Jadikanlah keluarga kami menjadi penerang hati kami dikala kami tersesat dari jalan-Mu. Jadikanlah keluarga kami menjadi jalan untuk meraih surga-Mu, bukan menjadi jalan bagi kami untuk terjerumus ke dalam neraka-Mu.

Wahai sahabat, marilah bersama-sama kita membangun keluarga kita dengan landasan agama. Kita jadikan keluarga kita sebagai wasilah untuk saling menasehati dikala diri terjerembab dalam lubang kelalaian. Karena istri & anak-anak kita merupakan amanah dari Allah yang harus senantiasa kita jaga. Sekali lagi, mari kita jadikan keluarga kita sebagai keluarga Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah. Amin

sazad_5 at yahoo dot com

Lanjutkan Membaca..

Belajar Menjadi "Bapak"

Oleh Sus Woyo

Saya sedang mengalami 'episode' kehidupan yang cukup menarik. Paling tidak menarik bagi diri saya sendiri. Dan saya percaya belum tentu menarik bagi orang lain. Sebuah kisah yang runtut, dengan alur cerita yang tidak meloncaat-loncat. Dan alhamdulillah diahiri juga dengan 'ending' yang tak kalah menariknya.
Saya ingin sekali menceritakannya kepada orang lain. Atau lebih tepatnya ingin berbagi cerita dengan siapa saja seperti saudara-saudara saya, handai taulan, sahabat, tetangga dan lain sebagainya. Tak ada maksud apapun, kecuali berangkat dari sebuah keyakinan, bahwa setiap jejak langkah manusia, baik yang mengandung tangis atau tawa, manis atau getir, selalu menyimpan hikmah. Walaupun hikmah itu hanya sebesar biji sawi.
Awalnya, beberapa hari menjelang lebaran 1426 H, seorang sahabat di Jakarta, mengirim artikel pendek kepada saya. Artikel itu mengisahkan tentang salah satu cara Rasulullah berlebaran. Ditulis oleh Bayu Gawtama, sorang penulis yang tulisannya sering saya baca di sebuah situs Islam. Dalam artikel itu ada dialog yang sangat menyentuh antara seorang anak gadis dengan Rasulullah SAW.

"Apakah gerangan yang membuatmu menangis, anakku?" Tanya Nabi. Rasulullah mendekap anak gadis itu. Ternyata ia menangis karena tidak ada yang membelikan baju baru untuk berlebaran.
"Ayahku mati syahid dalam peperangan bersama Rasulullah." katanya.
"Maukah kamu jika Rasulullah menjadi bapakmu, Aisyah menjadi ibumu, Fatimah sebagai bibimu, Ali menjadi pamanmu serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?" Ujar Rasulullah SAW.

Anak gadis itu mendongak. Dan ia baru tahu bahwa yang mendekapnya ternyata adalah Rasulullah SAW, bapaknya anak yatim.
Setelah membaca dialog itu saya jadi berpikir. Seandainya yang menemukan anak gadis itu adalah saya, sanggupkah saya dengan serta-merta dan spontanitas bertindak seperti Rasulullah? Yang menawarkan diri untuk menjadi bapaknya? Berhari-hari saya berpikir tentang itu semua.
Masih ada kemiripan dengan cerita tadi, tapi dalam nuansa yang berbeda. Beberapa hari setelah lebaran, ketika saya mau berangkat tidur, tiba-tiba seorang kawan memanggil-manggil saya. Katanya, ada sinetron bagus produksi Indonesia yang ditayangkan TV Brunei. Saya bergegas untuk ikut menontonnya. Ternyata, cerita sinetron itu diambil dari novel 'Pada-Mu Aku Bersimpuh' karya Gola Gong. Penulis yang pernah melahirkan novel berseri 'Ballada Si Roy' yang populer di tahun 90-an.

Dalam tayangan sinetron yang diproduksi tahun 2001 itu, ada juga sesuatu yang membuat saya sempat tidak bisa melupakannya. Yaitu tentang komentar H . Budiman, tokoh dalam cerita itu, terhadap anak pungutnya yang bernama Ana. Kata H. Budiman, "Ini adalah anugrah yang di kirim Allah kepada saya. Saya harus menjalankan amanah ini baik-baik."
Saya terus mengikuti sinetron yang ditayangkan setiap malam Jum'at itu. Dan saya menangkap dengan gamblang, bahwa H. Budiman telah membuktikan kata-katanya. Ia telah bertanggung jawab betul-betul kepada anak pungutnya itu. Mendidik, mengarahkan dan juga memberi fasilitas ke jalan lurus berdasarkan syariat-Nya. Dan ia tak pernah membedakan antara anak pungut dengan anak yang dilahirkannya sendiri.
Masih dalam bulan Syawal, juga masih berkisah tentang seorang bapak, tepatnya pada tanggal 17, saya selalu ingat acara rutin tahunan yang selalu diselenggarakan oleh pesantren tempat dulu saya 'numpang tidur' beberapa lama. Acara tahunan itu berlabel 'tasyakur lil ikhtitam'. Sebuah acara syukuran atas berhasilnya para santri menempuh pelajaran dalam waktu satu tahun. Biasanya kami berkumpul bersama. Baik yang masih menempuh pelajaran di pesanten itu, maupun yang sudah jadi alumni.

Saya, biasanya menyempatkan diri untuk datang dalam acara tersebut, kecuali saat ini, sebab saya sedang merantau di luar negri. Bertemu kembali dengan guru, ustaz sekaligus kyai saya, Bapak Abil Abbas. Sosok agamawan yang maih muda. Yang tak pernah mau disebut guru, ustadz maupun kyai. Beliau hanya mau disebut Bapak. Tak lebih dari itu. Sehingga kami para santri, tak pernah satu kalipun memanggil beliau dengan sebutan Kyai. Ini memang tak lazim. Sebab di pesantren-pesantren tradisional lainnya, guru mereka pasti di panggil Kyai, atau bahkan Romo Kyai. sebuah sebutan yang sudah tidak asing lagi dalam komunitas Islam tradisional di pulau Jawa.
Pada awalnya saya juga heran, kepada guru kami itu. Namun pada masa berikutnya saya menemukan jawaban. Bahwa, katanya, hubungan antara bapak dan anak itu, sepanjang masa, bahkan sampai akhirat. Sedang hubungan antara guru dan murid atau santri, pada suatu saat bisa saja terputus ketika kita sudah tidak belajar lagi di tempat yang bersangkutan. Dan ini tercermin pada sikap pak Abil Abbas kepada kami para santrinya. Beliau menganggap kami sebagai anak. Maka kamipun menganggap beliau sebagai bapak kami. Hubungan itupun ahirnya sangat mesra dan erat.
Dan suatu malam, setelah menyaksikan tayangan "Pada-Mu Aku Bersimpuh" di TV Brunei itu, saya menjadi ingat Sang Bapak, di pesantren Al-Hikmah, Baturraden, Purwokerto. Sebuah kenangan yang telah menjadi 'prasasti' di kalbu saya.


Di ahir bulan Syawal, istri saya di kampung memberi kabar kepada saya. Bahwa ia baru saja menyaksikan seorang bayi laki-laki yang baru lahir dari sepasang keluarga muda. Istri saya sangat iba karena si ibu bayi itu nampak sangat kerepotan dalam mengurusnya, karena kakak bayi itu belum genap satu tahun dan suaminya bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Lagi pula bayi itu memang tidak dikehendaki lahir oleh orang tuanya, namun Allah bertindak lain. Kata ibu si bayi, program KB yang ia ikuti tidak berhasil, sehingga terjadi hamil lagi. Dan lahirlah bayi itu.
Ahirnya suatu hari istri saya memberi tawaran, "Bagaimana jika anak itu kita ambil dan kita jadikan anak kami untuk menemani Damar?" Katanya kepada saya lewat SMS-nya.
Saya tertegun sejenak membaca pesan singkat istri saya itu. Tapi berbekal referensi dari Rasulullah yang diceritakan dalam tulisan Bayu Gawtama, dan keseriusan Haji Budiman, yang dikisahkan dalam novel Gola Gong, serta pengalaman hidup dengan 'bapak' saya di pesantren Al-Hikmah, dengan mantap saya menyetujui usul istri saya.
Maka mulai hari itu, saya bertekad untuk belajar menjadi seorang 'bapak'. Bapak dalam arti sangat luas. Yang tidak hanya memberi pendidikan, arahan dan fasilitas bagi anak yang lahir secara 'genetical' dari rahim istri saya saja, tapi bagi anak siapa saja yang karena sesuatu hal tidak bisa dipelihara langsung oleh kedua orang tuanya, atau malah memang tidak dikehendaki lahir oleh ibu bapaknya.
Dan ternyata sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang bernasib seperti itu di sekeliling kita. Yang amat sangat membutuhkan uluran tangan serius dari sosok seorang 'bapak'. Apalagi jika kita mau meluangkan waktu untuk berlama-lama di stasiun, terminal atau tempat-tempat kumuh di kota kita masing-masing. Maka kita akan banyak bertemu dengan anak-anak yang bernasib kurang beruntung. Yang tentunya menunggu sentuhan mesra seorang 'bapak'.


# Terima kasih kepada Mbak Azimah Rahayu, Mas Bayu Gawtama, Mas Gola Gong dan Sang 'Bapak' di pesantren Al-Hikmah, Baturraden, Purwokerto.#
Brunei, Des 2005

Lanjutkan Membaca..

Sepatu Baru untuk si Pemetik Daun Singkong

Oleh Bayu Gawtama

Usianya baru 12 tahun, duduk di bangku kelas 6 Madrasah Ibtida’iyah –setingkat Sekolah Dasar-, namun posturnya yang tinggi membuat orang mengira ia siswa kelas 3 SMP. Januar Rizky, atau biasa dipanggil Kiki, tak kenal lelah mengumpulkan ikat demi ikat daun singkong yang berhasil dikumpulkannya setiap pulang sekolah. Kulit hitam dan merah di rambutnya adalah bukti kerasnya hidup yang dijalani bocah dari keluarga tak mampu ini. Namun, semua dilakukannya demi satu cita-cita, “Saya ingin membahagiakan ibu,” ujarnya malu-malu.

Setiap hari sepulang sekolah, Kiki dijemput bosnya dengan sepeda motor dan diajak ke ladang singkong. Bersama belasan anak sebayanya yang lain, Kiki berpacu dengan waktu memetik pucuk daun singkong yang oleh bosnya nanti dijual ke pasar. Jika Anda biasa makan lalap daun singkong di rumah makan Padang, boleh jadi itu adalah hasil petikan tangan Kiki. Untuk satu ikat kecil daun singkong yang dipetiknya, Kiki mendapat upah Rp 20,-, jumlah yang teramat kecil untuk simbah-peluhnya. Namun dasar Kiki adalah pekerja keras yang tak kenal lelah, sejak siang hingga senja tak kurang 150 ikat berhasil dikumpulkannya. Kiki pun tersenyum puas menghitung uang hasil jerih payahnya. Menjelang maghrib ia bersegera pulang.

“1.500 buat ibu, buat masak. Sisanya saya simpan buat bayar sekolah dan uang jajan Rini,” ujar Kiki yang teramat sayang terhadap Rini, adiknya yang baru kelas 3 sekolah dasar. Tak heran, setiap bulannya, orangtuanya tak perlu repot mengeluarkan uang bayaran sekolah, karena Kiki sudah bisa membayar sendiri uang sekolahnya. Untungnya, ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sehingga biaya sekolah lebih murah. Bahkan untuk membeli buku pelajaran pun, Kiki tak mau meminta. Kiki sadar, orangtuanya bukan orang yang mampu, sehingga ia tak mau merepotkan.

Sudah satu pekan ini Kiki tak mau bersekolah. Pasalnya, ia malu setiap hari harus ditegur guru dan kepala sekolahnya lantaran ia tak bersepatu. Setiap hari, Kiki hanya bersandal jepit ke sekolahnya. Selama ini, teguran dari gurunya ia simpan dalam hati. Tak ingin ia mengadukan perihal tersebut kepada Ayahnya. Ayah Kiki, hanya seorang pembuat miniatur menara dari bambu. Penghasilannya tak tentu, tergantung pesanan. Pesanan pun baru bisa dipenuhi sang Ayah jika ada modal untuk membeli bahan baku. Sementara ibunya, hanya seorang ibu rumah tangga yang menderita stroke, butuh biaya besar untuk mengobati penyakitnya. Alhasil, Kiki pun tahu diri untuk menuntut dibelikan sepatu. Tak hanya Kiki, Rini sang adik pun sekolah tanpa sepatu.

Bukan cuma soal sepatu, baju seragam Kiki pun bukan hasil beli di toko, melainkan pemberian dari teman-temannya atau kakak kelasnya yang sudah lulus. Wajarlah bila seragam Kiki terlihat lebih jelek dari siswa lainnya, maklum bukan barang baru. Pernah satu hari Kiki harus mendobeli celana seragamnya dengan celana mainnya, karena celana seragam pemberian dari temannya lebih besar dari ukuran tubuhnya. Usahanya untuk tetap berseragam malah mendapat teguran dari seorang guru, karena celana mainnya yang lebih panjang itu menyembul dari celana hijau seragamnya. Lucu? Tentu tidak, ini menyedihkan buat Kiki.

Menjelang ujian bulan April 2006 nanti, Kiki semakin resah. Kepala sekolah sudah mengancam tak mengizinkan Kiki mengikuti ujian jika Kiki tetap bersandal ke dalam kelas. Kiki pun mengeluhkan hal ini kepada Ayahnya. Namun apa daya, sang Ayah pun hanya bisa pasrah dan mengucap janji, “Insya Allah”.

Pucuk daun singkong yang setiap hari dipetiknya semakin lama semakin habis. Ladang yang biasa menjadi tempatnya mencucurkan peluh itu, hanya menyisakan batang-batang singkong tak berdaun. Kiki dan teman-temannya pun diboyong pindah ke ladang lainnya yang lebih jauh. Hingga tak jarang, Kiki harus pulang selepas Isya. Bila tak ada lagi ladang singkong yang harus dipetik pucuknya, Kiki pun beralih profesi sebagai pemanjat pohon pepaya. Rupanya, bisnis si bos bukan hanya menjual daun singkong, tetapi juga menjual pepaya di pasar. Kiki dan seorang temannya lah yang diandalkan sebagai pemanjat. Meski jarang, tetapi hasil memetik buah pepaya ini lebih besar, yakni Rp 5.000,- perhari.
Kiki harus membayar mahal untuk kegiatannya sehari-hari itu, baik memetik pucuk daun singkong maupun pepaya. Bukan hanya warna kulitnya yang makin legam tersengat matahari, tapi prestasi di sekolahnya pun menurun. Dulu sebelum ia menjalani semua ini, ia masih mampu bersaing dengan teman-temannya dan meraih peringkat dua atau tiga di kelas. Kini, peringkatnya jauh menurun. Anak sekecil itu terlalu lelah membanting tulang untuk tiga ribu rupiah perhari.

Esok, semoga Kiki mau bersekolah lagi. Ada sedikit rezeki untuk membeli sepatu baru buat Kiki. Senyum ceria si pemetik pucuk daun itulah yang dinanti di hari depan, bukan karena ia berhasil mengumpulkan seribu ikat daun singkong perhari. Melainkan senyum atas prestasi tertinggi yang diraihnya di sekolah.

Lanjutkan Membaca..

Standard Kesuksesan

Oleh Nur Afiati

Di usia menapaki lebih dari seperempat abad, teman-teman saya sudah ada yang lulus S-2, menjalani karier yang prospektif dan mantap, serta berkeluarga dengan mapan. Sementara saya? Masih belum seperti mereka.
Sebagian dari anda mungkin memiliki perasaan seperti itu. Membandingkan diri dengan keadaan rekan-rekan seangkatan dan mencoba menganalisa diri ada di posisi mana. Tidak jarang, kita merasa posisi kita masih belum sejajar dengan mereka. Kita merasa, mereka sudah menjalani kehidupan dengan lebih mantap, lebih mapan, atau lebih sukses. Kalau sudah begitu, lantas diri sering merasa minder, kurang percaya diri, apalagi jika berhadapan dengan orang-orang yang kita anggap lebih itu.
Seorang psikolog terkenal pernah menulis, jangan pernah membandingkan apa yang ada dalam diri orang lain dengan apa yang kita miliki. Karena biasanya, ini berakhir dengan perasaan buruk. Kalau kita merasa diri lebih baik, akan ada rasa sombong hinggap dalam diri. Sementara bila sebaliknya, kita lalu akan merasa gagal dan rendah diri.

Benar. Saya merasakan lebih sering berada di posisi yang kedua. Membandingkan dengan teman seangkatan (atau lebih muda) dan melihat mereka sudah memiliki pekerjaan tetap yang mantap, maka terkadang hadir perasaan inferior, minder karena saya belum sampai di taraf itu. Alih-alih membuat saya termotivasi untuk lebih baik, saya lebih sering merasa gagal dan itu menyurutkan langkah untuk mengembangkan kemampuan lebih lanjut.
Ada kalanya saat membandingkan keadaan diri dengan orang lain, saya menilai keadaan saya “lebih baik”. Akibatnya, saya merasa sudah cukup melakukan usaha. Bahkan mungkin berhenti memberikan upaya optimal karena merasa sudah ‘lebih baik’ dari orang lain.
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Psikolog tadi mengatakan, ukur keberhasilan kita dengan upaya yang sudah dijalankan disertai kemampuan yang nyata ada pada kita. Maksudnya, ketimbang berpayah-payah membandingkan keadaan diri dengan orang lain, bandingkan saja keadaan diri kita saat ini dengan keadaan diri kita di masa lalu. Lihat dengan jujur ke dalam diri, apakah kita sudah berupaya sebaik-baiknya meraih kesuksesan versi kita sendiri? Apa sebenarnya arti kesuksesan bagi kita? Jika kita sudah menemukan jawabannya, maka posisikan diri kita saat ini berdasarkan standar kesuksesan yang kita miliki sendiri. Untuk itu, kita perlu menetapkan sebuah target yang bisa kita jadikan sebagai ukuran.

Ambil contoh seorang sprinter. Ia menetapkan target untuk bisa mencapai catatan waktu 12 detik. Jika suatu kali, saat perlombaan ia mampu menjadi juara pertama, tapi catatan waktunya lebih dari 12 detik, maka ia belum bisa memenuhi standar kesukesannya sendiri. Sebaliknya, jika ia menjadi juara 2 tapi mencatatkan waktu kurang dari 12 detik, maka ia sudah mampu memenuhi standar kesuksesannya.
Setiap orang sepertinya memiliki target yang ingin dicapainya masing-masing. Karena itu, tentu saja standar kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Adalah tidak adil bagi diri sendiri, jika kita membandingkan pencapaian kita dengan pencapaian orang lain yang memiliki standar berbeda. Jadi, tetapkan target yang ingin anda capai di masa depan. Berikan upaya optimal untuk mencapainya. Kemudian ukur dengan jujur keberhasilan kita sesuai upaya dan kemampuan yang kita miliki.

Jangan lupa, Rasulullah bersabda, barangsiapa yang hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang sukses. Barangsiapa yang hari ini sama seperti yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang tertipu. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang-orang yang merugi di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang memilii keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Wallahu’alam bishshowab.
-satu episode dalam today is a gift-

Lanjutkan Membaca..

Pertama Masuk Pesantren

pertama kumenginjak dipenjara suci ini
kumerasa berada didalam mimpi
pandangan yang indah menakjubkan hati
membuat hatiku senang dan gembira
kulihat satu bangunan dipenuhi dengan kaum ikhwan
mereka bersenang senang dan saling beranda
saling berbagi dan saling mengasihi
membuat hatiku tersenyum bahagia

Puisi ini karya :Jejen

Lanjutkan Membaca..