Rohis Tazakka SMK Negeri 1 Bantul

"Fi Thoriqil Islami Jihaduna"

Assalamu'alaikum

Perkenalkan, kami dari Rohis Tazakka SMKN 1 Bantul mempersembahkan sebuah blog yang bertujuan untuk media penyampaikan informasi kegiatan, dakwah dan juga sebagai media mempererat ukhuwah di berbagai kalangan, khususnya pelajar.

Berikut profil singkat kami

Rohis Tazakka SMKN 1 Bantul merupakan suatu organisasi di bawah OSIS sekbid Ketaqwaan. Pada awal pembentukannya, nama Takmir Musholla Ath Tholibin lah yang dipilih menjadi nama organisasi ini sebelum berubah nama menjadi Rohis Tazakka. Nama Tazakka diambil dari QS Al A'la ayat 14 yang berarti membersihkan diri. Hingga saat ini sudah ada 13 generasi yang telah mengabdikan diri bersama Rohis Tazakka.

Perjuangan dakwah tidak akan terhenti apabila sudah menjadi alumni. Ini dikarenakan Rohis Tazakka memiliki organisasi khusus alumni Rohis yang bernama FORMASSKA ( Forum Alumni Rohis SKANSABA ) yang masih terus aktif dan membantu para pejuang muda Rohis SMK Negeri 1 Bantul.

Rohis Tazakka mempunyai jargon Fii Thoriqil Islami Jahadna yang artinya Di Jalan Islam Kami Berjuang. Organisasi ini mempunyai visi mewujudkan warga SMK yang cerdas dan berakhlak mulia, sedangan misinya ialah berjuang dengan niat karena Allah swt.

Info lebih lanjut hubungi kami di
Facebook : Rohis Tazakka
Twitter : @Rohis_Tazakka
Instagram : @rohistazakka

Sepatu Baru untuk si Pemetik Daun Singkong

Oleh Bayu Gawtama

Usianya baru 12 tahun, duduk di bangku kelas 6 Madrasah Ibtida’iyah –setingkat Sekolah Dasar-, namun posturnya yang tinggi membuat orang mengira ia siswa kelas 3 SMP. Januar Rizky, atau biasa dipanggil Kiki, tak kenal lelah mengumpulkan ikat demi ikat daun singkong yang berhasil dikumpulkannya setiap pulang sekolah. Kulit hitam dan merah di rambutnya adalah bukti kerasnya hidup yang dijalani bocah dari keluarga tak mampu ini. Namun, semua dilakukannya demi satu cita-cita, “Saya ingin membahagiakan ibu,” ujarnya malu-malu.

Setiap hari sepulang sekolah, Kiki dijemput bosnya dengan sepeda motor dan diajak ke ladang singkong. Bersama belasan anak sebayanya yang lain, Kiki berpacu dengan waktu memetik pucuk daun singkong yang oleh bosnya nanti dijual ke pasar. Jika Anda biasa makan lalap daun singkong di rumah makan Padang, boleh jadi itu adalah hasil petikan tangan Kiki. Untuk satu ikat kecil daun singkong yang dipetiknya, Kiki mendapat upah Rp 20,-, jumlah yang teramat kecil untuk simbah-peluhnya. Namun dasar Kiki adalah pekerja keras yang tak kenal lelah, sejak siang hingga senja tak kurang 150 ikat berhasil dikumpulkannya. Kiki pun tersenyum puas menghitung uang hasil jerih payahnya. Menjelang maghrib ia bersegera pulang.

“1.500 buat ibu, buat masak. Sisanya saya simpan buat bayar sekolah dan uang jajan Rini,” ujar Kiki yang teramat sayang terhadap Rini, adiknya yang baru kelas 3 sekolah dasar. Tak heran, setiap bulannya, orangtuanya tak perlu repot mengeluarkan uang bayaran sekolah, karena Kiki sudah bisa membayar sendiri uang sekolahnya. Untungnya, ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sehingga biaya sekolah lebih murah. Bahkan untuk membeli buku pelajaran pun, Kiki tak mau meminta. Kiki sadar, orangtuanya bukan orang yang mampu, sehingga ia tak mau merepotkan.

Sudah satu pekan ini Kiki tak mau bersekolah. Pasalnya, ia malu setiap hari harus ditegur guru dan kepala sekolahnya lantaran ia tak bersepatu. Setiap hari, Kiki hanya bersandal jepit ke sekolahnya. Selama ini, teguran dari gurunya ia simpan dalam hati. Tak ingin ia mengadukan perihal tersebut kepada Ayahnya. Ayah Kiki, hanya seorang pembuat miniatur menara dari bambu. Penghasilannya tak tentu, tergantung pesanan. Pesanan pun baru bisa dipenuhi sang Ayah jika ada modal untuk membeli bahan baku. Sementara ibunya, hanya seorang ibu rumah tangga yang menderita stroke, butuh biaya besar untuk mengobati penyakitnya. Alhasil, Kiki pun tahu diri untuk menuntut dibelikan sepatu. Tak hanya Kiki, Rini sang adik pun sekolah tanpa sepatu.

Bukan cuma soal sepatu, baju seragam Kiki pun bukan hasil beli di toko, melainkan pemberian dari teman-temannya atau kakak kelasnya yang sudah lulus. Wajarlah bila seragam Kiki terlihat lebih jelek dari siswa lainnya, maklum bukan barang baru. Pernah satu hari Kiki harus mendobeli celana seragamnya dengan celana mainnya, karena celana seragam pemberian dari temannya lebih besar dari ukuran tubuhnya. Usahanya untuk tetap berseragam malah mendapat teguran dari seorang guru, karena celana mainnya yang lebih panjang itu menyembul dari celana hijau seragamnya. Lucu? Tentu tidak, ini menyedihkan buat Kiki.

Menjelang ujian bulan April 2006 nanti, Kiki semakin resah. Kepala sekolah sudah mengancam tak mengizinkan Kiki mengikuti ujian jika Kiki tetap bersandal ke dalam kelas. Kiki pun mengeluhkan hal ini kepada Ayahnya. Namun apa daya, sang Ayah pun hanya bisa pasrah dan mengucap janji, “Insya Allah”.

Pucuk daun singkong yang setiap hari dipetiknya semakin lama semakin habis. Ladang yang biasa menjadi tempatnya mencucurkan peluh itu, hanya menyisakan batang-batang singkong tak berdaun. Kiki dan teman-temannya pun diboyong pindah ke ladang lainnya yang lebih jauh. Hingga tak jarang, Kiki harus pulang selepas Isya. Bila tak ada lagi ladang singkong yang harus dipetik pucuknya, Kiki pun beralih profesi sebagai pemanjat pohon pepaya. Rupanya, bisnis si bos bukan hanya menjual daun singkong, tetapi juga menjual pepaya di pasar. Kiki dan seorang temannya lah yang diandalkan sebagai pemanjat. Meski jarang, tetapi hasil memetik buah pepaya ini lebih besar, yakni Rp 5.000,- perhari.
Kiki harus membayar mahal untuk kegiatannya sehari-hari itu, baik memetik pucuk daun singkong maupun pepaya. Bukan hanya warna kulitnya yang makin legam tersengat matahari, tapi prestasi di sekolahnya pun menurun. Dulu sebelum ia menjalani semua ini, ia masih mampu bersaing dengan teman-temannya dan meraih peringkat dua atau tiga di kelas. Kini, peringkatnya jauh menurun. Anak sekecil itu terlalu lelah membanting tulang untuk tiga ribu rupiah perhari.

Esok, semoga Kiki mau bersekolah lagi. Ada sedikit rezeki untuk membeli sepatu baru buat Kiki. Senyum ceria si pemetik pucuk daun itulah yang dinanti di hari depan, bukan karena ia berhasil mengumpulkan seribu ikat daun singkong perhari. Melainkan senyum atas prestasi tertinggi yang diraihnya di sekolah.

Lanjutkan Membaca..

Standard Kesuksesan

Oleh Nur Afiati

Di usia menapaki lebih dari seperempat abad, teman-teman saya sudah ada yang lulus S-2, menjalani karier yang prospektif dan mantap, serta berkeluarga dengan mapan. Sementara saya? Masih belum seperti mereka.
Sebagian dari anda mungkin memiliki perasaan seperti itu. Membandingkan diri dengan keadaan rekan-rekan seangkatan dan mencoba menganalisa diri ada di posisi mana. Tidak jarang, kita merasa posisi kita masih belum sejajar dengan mereka. Kita merasa, mereka sudah menjalani kehidupan dengan lebih mantap, lebih mapan, atau lebih sukses. Kalau sudah begitu, lantas diri sering merasa minder, kurang percaya diri, apalagi jika berhadapan dengan orang-orang yang kita anggap lebih itu.
Seorang psikolog terkenal pernah menulis, jangan pernah membandingkan apa yang ada dalam diri orang lain dengan apa yang kita miliki. Karena biasanya, ini berakhir dengan perasaan buruk. Kalau kita merasa diri lebih baik, akan ada rasa sombong hinggap dalam diri. Sementara bila sebaliknya, kita lalu akan merasa gagal dan rendah diri.

Benar. Saya merasakan lebih sering berada di posisi yang kedua. Membandingkan dengan teman seangkatan (atau lebih muda) dan melihat mereka sudah memiliki pekerjaan tetap yang mantap, maka terkadang hadir perasaan inferior, minder karena saya belum sampai di taraf itu. Alih-alih membuat saya termotivasi untuk lebih baik, saya lebih sering merasa gagal dan itu menyurutkan langkah untuk mengembangkan kemampuan lebih lanjut.
Ada kalanya saat membandingkan keadaan diri dengan orang lain, saya menilai keadaan saya “lebih baik”. Akibatnya, saya merasa sudah cukup melakukan usaha. Bahkan mungkin berhenti memberikan upaya optimal karena merasa sudah ‘lebih baik’ dari orang lain.
Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Psikolog tadi mengatakan, ukur keberhasilan kita dengan upaya yang sudah dijalankan disertai kemampuan yang nyata ada pada kita. Maksudnya, ketimbang berpayah-payah membandingkan keadaan diri dengan orang lain, bandingkan saja keadaan diri kita saat ini dengan keadaan diri kita di masa lalu. Lihat dengan jujur ke dalam diri, apakah kita sudah berupaya sebaik-baiknya meraih kesuksesan versi kita sendiri? Apa sebenarnya arti kesuksesan bagi kita? Jika kita sudah menemukan jawabannya, maka posisikan diri kita saat ini berdasarkan standar kesuksesan yang kita miliki sendiri. Untuk itu, kita perlu menetapkan sebuah target yang bisa kita jadikan sebagai ukuran.

Ambil contoh seorang sprinter. Ia menetapkan target untuk bisa mencapai catatan waktu 12 detik. Jika suatu kali, saat perlombaan ia mampu menjadi juara pertama, tapi catatan waktunya lebih dari 12 detik, maka ia belum bisa memenuhi standar kesukesannya sendiri. Sebaliknya, jika ia menjadi juara 2 tapi mencatatkan waktu kurang dari 12 detik, maka ia sudah mampu memenuhi standar kesuksesannya.
Setiap orang sepertinya memiliki target yang ingin dicapainya masing-masing. Karena itu, tentu saja standar kesuksesan setiap orang berbeda-beda. Adalah tidak adil bagi diri sendiri, jika kita membandingkan pencapaian kita dengan pencapaian orang lain yang memiliki standar berbeda. Jadi, tetapkan target yang ingin anda capai di masa depan. Berikan upaya optimal untuk mencapainya. Kemudian ukur dengan jujur keberhasilan kita sesuai upaya dan kemampuan yang kita miliki.

Jangan lupa, Rasulullah bersabda, barangsiapa yang hari ini lebih baik dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang sukses. Barangsiapa yang hari ini sama seperti yang terdahulu, maka dia termasuk orang yang tertipu. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dibandingkan yang terdahulu, maka dia termasuk orang-orang yang merugi di hadapan Allah SWT. Mudah-mudahan, kita termasuk dalam golongan orang-orang yang memilii keadaan hari ini lebih baik daripada hari kemarin.
Wallahu’alam bishshowab.
-satu episode dalam today is a gift-

Lanjutkan Membaca..

Pertama Masuk Pesantren

pertama kumenginjak dipenjara suci ini
kumerasa berada didalam mimpi
pandangan yang indah menakjubkan hati
membuat hatiku senang dan gembira
kulihat satu bangunan dipenuhi dengan kaum ikhwan
mereka bersenang senang dan saling beranda
saling berbagi dan saling mengasihi
membuat hatiku tersenyum bahagia

Puisi ini karya :Jejen

Lanjutkan Membaca..

Ibu, Oh Ibu

Oleh Desriani

Assalamualaikum wr wb......

Nama saya Desriani saat ini lagi studi di Tokyo.....Tulisan ini dibuat oleh adik saya Dian Hafizah......Saya pengen pembaca yang lain juga menikmati tulisan Dian.....semoga ada hikmah yang bisa dipetik.......
Saat saya mencoba membuat tulisan ini agak bingung juga awalnya. Tidak tahu mulai dari mana hanya berusaha mencoba mengarang-ngarang apa kira-kira yang akan saya tuliskan, karena sepertinya tidak ada darah pujangga yang mengalir dalam darah saya dan saya pun menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa pemilihan kata-kata saya sangatlah terbatas jika tidak mau dibilang sangat payah, apalagi yang akan dibahas topiknya adalah suatu yang istimewa bagi orang banyak yaitu tentang ibu.
Sebetulnya tema ini adalah sesuatu yang tidak pernah basi untuk dijadikan inspirasi, bagaimana tidak, mulai dari puisi, lagu hingga ke kata-kata indah di dalam blog, koran maupun majalah banyak yang mengagung-agungkan betapa mulianya peran seorang ibu sebagai pelindung, pengayom dan tempat anak-anaknya mengadukan semua masalahnya. Dulu sewaktu kecil saya pernah mendengar lagu dari penyanyi yang saya lupa namanya, liriknya sederhana namun sangat menyentuh hati

   “Ibu, ibu,........
    engkaulah ratu hatiku,
    bila kuberduka,
    engkau hiburkan selalu,
    ibu, ibu.......”

 
Saat saya menulis tulisan ini pun sayup-sayup saya mendengar lagu Melly Guslow berjudul bunda yang terkenal itu dari telepon genggam teman saya yang menjadikan lagu itu sebagai nada deringnya. Begitu banyak semua penghargaan dan semuanya itu didedikasikan bagi ibu seorang.
Ironisnya waktu saya kecil dahulu pernah terlintas pikiran bahwa apa yang dilakukan oleh seorang ibu dalam mengasuh dan merawat anaknya adalah sudah sewajarnya dilakukan oleh setiap wanita yang memiliki anak. Semua orang melakukannya dan bila kelak saya sudah besar sayapun akan melakukan hal yang sama. Tidak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya yang dibesarkan oleh ibu yang dalam anggapan saya adalah biasa saja sebenarnya adalah orang yang benar-benar beruntung. Bagaimana tidak karena kenyataannya banyak wanita yang membuang bayi dan menelantarkan anak-anaknya atau bahkan mengeksploitasi anak itu untuk kepentingan mereka sendiri. Terus apakah mereka bisa dipanggil sebagai ibu? entahlah....
Apakah anda pernah merenung tentang oksigen yang terdapat bebas di alam raya sebagai tanda kasih sayang tuhan kepada kita. Udara itu selalu memenuhi rongga dalam tubuh kita dan mengalir dalam aliran darah kita tanpa kita sadari. Namun pasti tak pernah kita membayangkan apa yang terjadi bila kita satu menit saja tanpa udara, maka apakah yang akan terjadi. Kasih sayang seorang ibu itu tidak ubahnya seperti udara yang selalu kita hirup tadi. Ia juga adalah hadiah yang diciptakan Tuhan untuk kita. Tapi kadang kala keberuntungan itu memang kurang bisa kita disyukuri karena sudah bertahun-tahun kita nikmati, sehingga yang terjadi kita malah selalu merasa kurang dan menganggap itulah yang seharusnya terjadi.

Sedari tadi saya menyinggung-nyinggung tentang keistimewaan ibu seolah olah beliau adalah seorang yang tak boleh melakukan salah. Sama sekali tidak seperti itu, bagaimanapun ibu bukanlah malaikat tanpa cela dan noda. Seorang ibu adalah manusia biasa juga yang pasti ada salah dan khilafnya. Ibu saya pun begitu pula. Namun hal itu tidak menghalangi saya untuk memenuhi masa kecil saya dengan mozaik-mozaik yang berisikan pengalaman-pengalaman baik suka maupun duka bersama dengan ibu saya.
Saya teringat pernah suatu ketika saya yang usia siswa sekolah dasar mengejar-ngejar ibu yang dengan “teganya” meninggalkan saya yang notabene adalah anaknya.

Ups.... jangan salah sangka dulu bahwa ibu saya tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, karena waktu itu ibu saya yang berprofesi sebagai guru sudah terlambat mengajar dan saya yang akan berangkat sekolah (yang pastinya terlambat juga ) masih sibuk mencari pasangan kaus kaki yang hanya sebelah padahal ibu saya sudah jauh hari mengingatkan untuk menyiapkan keperluan besok paginya tapi tidak saya lakukan. Waktu itu saya sempat protes kenapa ibu saya bukan ibunya teman saya yang pastinya akan mempersiapkan kebutuhan anaknya alih-alih menyuruh anaknya mempersiapkan kebutuhannya sendiri sambil menangis bombay di tepi jalan sampai akhirnya berhenti sendiri karena malu dilihat orang (he he he akhirnya saya tidak jadi sekolah hari itu dan akhirnya dimarahi oleh ayah saya).

Atau pada saat saya marah-marah karena ternyata cokelat yang saya sayangi dan dimakan sehemat mungkin hingga diharapkan bisa bertahan dalam waktu yang lama dan sudah saya sembunyikan dengan baik di dalam lemari baju tiba-tiba raib entah kemana. Usut punya usut ternyata keberadaannya diketahui sudah berada dalam perut ibu saya.
Kenangan lain yang saya ingat adalah bagaimana setiap hari ibu saya selalu menyisir rambut saya yang panjang. Jangan bayangkan rambut saya lurus dan bagus karena secara saya itu anak SD yang sebenarnya belum mampu mengurus rambut sendiri sering kali rambut saya kusut dari pada rapinya tapi tetap saja saya bersikeras tidak mau memotong rambut saya, maka kemudian ibu saya bercanda bilang bahwa rambut yang tidak mau diatur itu mencerminkan hati yang kusut pula dan karena saya anak kecil yang tidak tahu arti candaan malah menanggapinya serius dan bersungut sungut karena dibilang kusut hati padahal keesokannya tetap saja akhirnya saya mencari ibu untuk menyisirkan rambut saya lagi.

Namun dari semuanya itu saya juga teringat saat ibu saya selalu menunggui saya yang memang selalu penyakitan sedari kecilnya. Pernah saya untuk pertama kalinya pulang ke rumah naik bus sendirian dari kota tempat saya kuliah ke kampung pada malam hari pula, dan kemudian langsung masuk angin dan muntah-muntah. Ibu lalu mengusapkan balsem ke dada dan punggung saya dan menunggui saya semalaman. Itu baru masuk angin, coba bayangkan apa yang dilakukan oleh ibu saat asma saya kambuh malam buta dan saya kesulitan bernafas padahal penyebab asma saya kambuh adalah karena saya melanggar pantangan dokter dengan minum es sembunyi-sembunyi di siang hari.
Atau saat ibu memberikan saya entah itu makanan ataupun buah-buahan dan kemudian kami memakannya berdua secara sembunyi-sembunyi. Jangan beranggapan bahwa tidak ada makanan di rumah kami karena sebetulnya setiap hari saat ibu pulang berbelanja pasti ibu selalu membawa makanan berupa camilan dalam jumlah yang banyak antara lain tape, lemang, kerupuk, sate, berbagai macam es, dan berbagai macam buah sesuai dengan musimnya, namun ada beberapa makanan favorit yang hanya bisa diakses oleh ibu saja. Dasar namanya anak-anak walaupun banyak makanan lain namun apabila bisa memakan makanan yang disembunyikan ibu membuat saya merasa diistimewakan dari saudara-saudara yang lain. Pada saat saya sudah agak besar saya baru tahu bahwa ibu juga membeli makanan “istimewa” tadi dalam jumlah yang banyak dan memastikan semua anaknya dapat makanan “istimewa” itu.

Saya dan saudara saya juga sering berburu harta karun di rumah. Yang dimaksud harta karun ini makanan yang disembunyikan oleh ibu antara lain berbagai macam permen, milkshake, kopi instan, dan berbagai macam jenis kacang-kacangan dan makanan favorit ibu manisan buah pala, tentu saja hal ini berlangsung tanpa sepengetahuan ibu. Harta karun ini tersebar di berbagai tempat di rumah antara lain di laci meja, di dapur, dalam kaleng, dibalik pintu dan tentu saja di dalam lemari di bawah tumpukan baju (nah sekarang tahukan bakat siapa yang saya warisi....).
Selain membeli makanan ibu juga rajin sekali membuat berbagai macam kue, seingat saya selalu ada persediaan tepung terigu, gula dan telur di rumah. Sore-sore ibu membuat bolu atau bubur kacang hijau atau bila bakat eksploitasi ibu lagi meningkat ibu kemudian mencoba resep-resep aneh di majalah. Saya sering bertindak sebagai asisten ibu biasanya sebagai tukang timbang atau tukang bakar dan yang paling sering adalah sebagai tukang cuci piring (salah satu tugas yang tidak saya favoritkan). Saat saya dewasa bakat ini kemudian menurun ke saya.
Walaupun ibu membuat camilan dalam jumlah banyak (bayangkan saja ibu selalu membuat bubur kacang hijau satu panci besar) namun pasti selalu habis dan anehnya selalu saja ada yang mengaku belum dapat (atau belum dapat banyak). Untuk mengantisipasinya biasanya ibu menyisihkan sebagian makanan tersebut sehingga apabila ada yang komplain bisa minta lagi pada ibu.

Bila kita bicara tentang kerajinan yang dilakukan oleh ibu, salah satu hal lain yang rajin dilakukan oleh ibu waktu kami anak-anaknya masih kecil adalah mencari kutu. Bukan jorok atau apa tapi karena kami tinggal di kampung yang notabene anak-anaknya tidak dibesarkan secara higienis masih banyak anak-anak yang kutuan dan karena kutu itu menular maka migrasi kutu antar kepala satu dengan yang lainnya tak terhindarkan. Jadi hipotesisnya kalau anda ingin populer dan mempunyai banyak teman maka kutuan adalah resiko yang harus anda terima. Ditambah lagi dengan kutu yang dibawa oleh kakak saya yang tertular dari teman kosnya (kakak saya yang tertua kuliah di kota yang berbeda) maka populasi kutu di kepala kami pun bertambah padat dengan pertumbuhan penduduk yang bertambah secara signifikan. Waktu itu belum ada peditox jadinya proses pembasmian kutu dilakukan secara manual dan kontinu oleh ibu dengan bersenjatakan sisir yang rapat dan dialas dengan kain putih bekas popok adik bayi saya. Akibat insiden kutu ini pulalah kemudian saya merelakan rambut panjang nan kusut masai tapi saya sayangi dipotong pendek ala cowok.
Banyak lagi kenangan lain yang saya lalui bersama ibu di samping saya, seperti pada saat saya ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri di kota, sepertinya hanya saya satu-satunya peserta ujian yang ditunggui oleh ibu, walaupun diolok-olok oleh teman saya tapi keberadaan ibu di luar ruang ujian merupakan obat mujarab yang mampu menenangkan hati saya yang bergemuruh (ternyata belakangan baru saya tahu bahwa ibu tidak menunggu di luar kelas saat saya ujian karena beliau pergi berbelanja ke pasar dan kemudian kembali lagi saat ujian hampir selesai ). Bahkan kebiasaan diantar dan ditunggui ibu masih berlanjut sampai saat saya akan menyusun skripsi, ibu dengan setia menemani saya mengumpulkan data ke petani bahkan ikut hadir dan menimpali tanya jawab yang saya lakukan dengan petani tersebut (“Serasa penelitian S3” kata beliau). Tentu saja saat yang paling membahagiakan dan yang bisa saya banggakan adalah saat ibu menghadiri wisuda saya. Pastinya wisuda bukanlah suatu akhir tapi adalah satu pintu untuk memulai tahapan baru dan saya senang karena bisa mempersembahkan momen tersebut untuk ayah dan ibu saya.


Hingga akhirnya saya seperempat abad begitu banyak kenangan yang tidak akan terlupakan. Sekarang saya berada jauh dari ibu sehingga barulah kemudian saya menyadari betapa beruntungnya saya jadi bagian dari hidup beliau. Saat ini kami lebih banyak berkomunikasi dengan menggunakan telepon saja. Beliau sering menelepon hanya untuk menanyakan kabar dan apakah saya sudah makan atau belum. Suatu kali beliau bercerita bahwa bubur kacang hijau yang dibuatnya hanya setengah dari porsi yang biasanya tidak jua habis padahal sudah dua hari terletak dalam kulkas. Kebiasaan beliau menyembunyikan “harta karun” juga masih saja dilakukan sampai sekarang padahal tidak ada lagi yang akan menghabiskan.
Saat-saat yang paling saya tunggu adalah saat musim liburan dan ada kesempatan pulang, saat itulah kami anak-anak beliau berkumpul lagi dan rumah kembali ramai, dan itu artinya perburuan harta karun pun berlangsung dan ibu dapat menyalurkan hobinya membuat camilan walaupun kemudian sering ngomel-ngomel karena belum sempat mencicipi makanan yang dibuatnya sementara camilannya itu sudah habis duluan. Dan saat masa itu tiba dengan semua kehebohan yang terjadi tidak pernah terpikirkan lagi bahwa andaikan ibu saya berbeda dari yang sekarang ini.
Demikianlah sepenggal kisah yang saya lalui bersama dengan ibu diantara banyak kenangan lain yang tak terlupakan, ada suatu quote yang pernah saya baca menginspirasi saya untuk membuat puisi
Ibu saya bukanlah Khadijah yang melahirkan generasi penerus nabi,
bukan pula ibu Iqomah yang maafnya seluas samudra,
Ibu saya hanyalah ibu diakhir jaman,
Yang meregang nyawa melahirkan generasi penerus darahnya,
Dalam maafnya ada pengampunan,
Dalam salahnya ada pembelajaran,
Air susunya mengalirkan kehidupan;
Karena anaknya adalah kesayangan.

Lanjutkan Membaca..

Hikmah di Balik Sebuah Catatan

Oleh Sus Woyo

Buku lusuh berwarna hitam. Terselip di antara tumpukan-tumpukan baju dalam rak lemari. Buku yang pada halaman pertamanya bertuliskan tinta biru agak besar dan berbunyi: Catatan Harian.
Saya tergerak untuk mengambilnya kembali. Membuka lembaran demi lembaran catatan lama. Walaupun kata Dr. Aidh Al-Qarni, penulis buku La Tahzan, buat apa membuka lembaran lama, jika hanya kesedihan yang didapat.
"Saya tiba di Brunei, pertengahan Januari 2004. Sebuah negeri kecil yang dipimpin Sultan Hasanal Bolkiah, yang bergelar Mu'izzadin Waddaulah. Begitu tiba di bandar udara, sampai ke rumah majikan, saya disodori simbol-simbol ke-Islam-an yang begitu kental. Dari tulisan Arab di jalan-jalan, bertaburannya kata assalamu'laikum dari mulut-mulut orang yang saya temui, sampai jenis pakaian Islami yang mereka kenakan."
"20 Januari, bekerja di sebuah perusahaan keluarga milik seorang haji, tapi tidak menampakkan sifat ke-haji-annya. Sebab banyak kata yang keluar dari mulutnya, sering menyakiti kami para pekerjanya. Kaligrafi ayat-yat al-Qur'an yang terpampang di dinding rumahnya, belum mampu menjadi cermin baik sang pemilik rumah tersebut."
"24 Januari, menjalani sistim kerja yang tidak memakai aturan buruh pemerintah setempat. Kami bekerja lebih dari empat belas jam sehari, tapi kelebihan waktu tak pernah dihitung overtime."

"6 Pebruari, bertemu dengan salah satu orang dari agen tenaga kerja yang memberangkatkan saya. Saya ingat betul kata-katanya yang begitu manis. Tetapi kesemuanya tidak pernah saya temukan kebenarannya."
"13 Pebruari, menerima kabar dari salah seorang keluarga di tanah air. Yang memberi tahu bahwa, kalau saya sudah menerima gaji, cepat-cepat dikirimkan ke Indonesia. Sebab orang yang memberi piutang pada saya sudah berkali-kali menagih."
"27 Pebruari, kerinduan kepada kampung halaman, adalah sesuatu yang selalu meliputi hari-hari saya. Apalagi situasi pekerjaan kami yang belum juga cocok dengan yang saya idam-idamkan."
"3 Maret, sempat berkumpul dengan kawan-kawan dari Indonesia yang lain di beranda masjid. Kami bercerita tentang banyak hal. Dan saya menemukan sebuah keanehan bahwa ternyata, doa seorang TKI dengan saudara-saudara kami di tanah air, berlawanan. Seorang TKI berdo'a: Semoga kurs dollar terhadap rupiah makin tinggi. Sehingga bisa cepat-cepat mengirim banyak uang kepada keluarganya. Sebaliknya para pekerja di tanah air berdoa: Mudah-mudahan kurs dollar terhadap rupiah makin rendah, sehingga harga-harga tidak melambung terus."

"12 Maret, berjumpa dengan sahabat perempuan dari Jawa Timur yang bekerja di sebuah restoran. Saya sempat berbicang dengan dia. Dan menanyakan mengapa pakaiannya setiap dua hari sekali selalu berganti mode. Dua hari pertama memakai jilbab dan pakaian Islami, layaknya muslimah taat. Dua hari kedua, memakai jilbab juga, tapi dipadu dengan T-shirt ketat dan celana jeans ketat pula. Dua hari ketiganya lain lagi. Masih pakai kerudung tapi pakaian dan celananya mirip laki-laki. Setelah saya tanya, dia menjawab: "Penampilan kami ini punya nilai jual, mas. Yah, sekedar untuk menarik pelanggan."
Saya berhenti membaca sejenak. Mencoba mencari-cari catatan-catatan saya yang agak bisa memberikan saya tersenyum. Namun nyaris tidak saya ketemukan. Adanya kepahitan-kepahitan yang saya jalani. Tiba-tiba saya terlintas suasana saat Idul Fitri yang penuh berkah itu.
"16 November, saya mendapat kesempatan untuk bersilturrahmi dengan Sultan Hassanal Bolkiah di Istana Nurul Iman. Suatu kesempatan yang luar biasa. Baru pertama kali saya bisa berjabat tangan dengan pemimpin sebuah negara seumur hidup saya. Anehnya bukan presiden negara saya, tapi justru pemimpin negara lain. Saya dan kawan-kawan dari Indonesia lainnya dijamu dengan luar biasa. Kami dipersilkan untuk makan dan minum sesuka hati. Dan tinggal memilih mana makanan dan minuman serta buah-buahan yang paling kami sukai. Sebab banyak macamnya. Hari itu saya merasa ada di pinggir sorga."
Setelah membaca itu saya menutup kembali buku harian saya. Saya kembalikan ke tempat semula. Saya tidak bergairah lagi untuk membacanya apalagi meneruskan kembali tulisan-tulisan saya. Saya merasa kehilangan semangat. Karena terlalu banyak catatan yang membuat saya getir dan pahit.

Namun, suatu saat saya teringat kata-kata orang alim, bahwa setiap jejak langkah kita, setiap peristiwa yang menimpa kita, baik yang mengandung tawa maupun tangis, baik yang manis ataupun yang getir, bukanlah semata-mata keinginan kita. Akan tetapi di balik itu semua Sang Sutradara Dunia, Allah SWT, ikut berperanan di dalamnya.
Akhirnya saya mencoba untuk menuliskan kembali, tentu untuk saya baca sendiri. Dengan keyakinan ada pelajaran atau hikmah yang terselip di balik coretan-coretan itu. Dan saya makin mempercayainya. Bukankah jika Allah yang menentukan, berarti itu jalan terbaik bagi kita? Wallohua'lam.

Lanjutkan Membaca..

Bersihkan Sekolah Berhadiah Gratis Sekolah

Oleh Bayu Gawtama

Jangan kaget atau heran, kalau suatu hari Anda melihat seorang gadis belia tengah membersihkan mushola di kawasan Depok, Jawa Barat. Anda hanya perlu mendekat dan tanyakan kepadanya perihal yang dikerjakannya. "Saya membersihkan mushola agar bisa gratis sekolah," ujar Rani tanpa malu-malu.
Ya, Rani memang tak pernah malu untuk mengerjakan hal itu. Baginya, membersihkan mushola adalah pekerjaan mulia. Selain, Insya Allah, mendapatkan pahala, Rani juga mendapatkan apa yang selama ini menjadi rintangan terbesar dirinya untuk mengenyam pendidikan. Dengan pekerjaan itulah Rani mendapatkan imbalan yang membuatnya sering bersyukur, ia dibebaskan dari kewajiban membayar uang sekolah. Karena mushola tersebut adalah mushola milik sekolah tempat ia belajar.

Rani, 16 tahun, gadis kecil yang mampu menyingkirkan rasa malunya dari teman-teman sekolahnya lantaran menjadi pembersih mushola sekolah. Berbeda dengan teman-temannya yang masih mendapat sokongan dari orangtuanya baik uang sekolah maupun uang saku untuk jajan, Rani tak pernah mencicipinya. Rani sadar betul, orangtuanya tergolong tak mampu, maka untuk tetap bersekolah, ia harus melakukan sesuatu. Awalnya Rani tak tahu, sampai akhirnya pihak sekolah menawarkan satu pekerjaan dengan imbalan gratis biaya sekolah. Jadilah Rani sang pembersih mushola. Dan ia senang melakukannya.
Jangan pernah tanya berapa uang saku Rani untuk jajan di sekolah. Karena untuk ongkos pulang pergi ke sekolah yang berjarak 5 km dari rumahnya pun Rani tak punya. Ia harus berangkat lebih awal agar tak terlambat berjalan kaki ke sekolahnya. Alhasil, tidak jarang pakaian seragamnya basah oleh peluh setibanya di sekolah. Pulang ke rumah pun demikian. Setelah membersihkan mushola, ia kembali ke rumah tetap dengan berjalan kaki.
Rani tak pernah bersedih, apalagi menyesali nasibnya. Ia merasa harus tetap berjuang. Mungkin Rani tak pernah tahu, bahwa jalan yang tengah ditempuhnya kini adalah jalan yang pernah dilalui orang-orang sukses terdahulu. Tak pernah ada orang sukses tanpa mengarungi derasnya ombak kehidupan, dan tak satupun orang meraih sukses tanpa peluh.
Kelak, jika Rani menuai kesuksesannya. Pastilah sulit baginya melupakan terminal-terminal perjalanan hidupnya. Mushola dan sepanjang jalan menuju sekolahnya, juga baju seragam yang sering bersimbah peluh itu, akan senantiasa menjadi kenangan terindah yang tak mungkin terhapus.

Lanjutkan Membaca..

Download