Rohis Tazakka SMK Negeri 1 Bantul

"Fi Thoriqil Islami Jihaduna"

Assalamu'alaikum

Perkenalkan, kami dari Rohis Tazakka SMKN 1 Bantul mempersembahkan sebuah blog yang bertujuan untuk media penyampaikan informasi kegiatan, dakwah dan juga sebagai media mempererat ukhuwah di berbagai kalangan, khususnya pelajar.

Berikut profil singkat kami

Rohis Tazakka SMKN 1 Bantul merupakan suatu organisasi di bawah OSIS sekbid Ketaqwaan. Pada awal pembentukannya, nama Takmir Musholla Ath Tholibin lah yang dipilih menjadi nama organisasi ini sebelum berubah nama menjadi Rohis Tazakka. Nama Tazakka diambil dari QS Al A'la ayat 14 yang berarti membersihkan diri. Hingga saat ini sudah ada 13 generasi yang telah mengabdikan diri bersama Rohis Tazakka.

Perjuangan dakwah tidak akan terhenti apabila sudah menjadi alumni. Ini dikarenakan Rohis Tazakka memiliki organisasi khusus alumni Rohis yang bernama FORMASSKA ( Forum Alumni Rohis SKANSABA ) yang masih terus aktif dan membantu para pejuang muda Rohis SMK Negeri 1 Bantul.

Rohis Tazakka mempunyai jargon Fii Thoriqil Islami Jahadna yang artinya Di Jalan Islam Kami Berjuang. Organisasi ini mempunyai visi mewujudkan warga SMK yang cerdas dan berakhlak mulia, sedangan misinya ialah berjuang dengan niat karena Allah swt.

Info lebih lanjut hubungi kami di
Facebook : Rohis Tazakka
Twitter : @Rohis_Tazakka
Instagram : @rohistazakka

Milikilah Sifat Malu


          Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari)
Malu, Ajaran Para Nabi Yang Tak Pernah Sirna
Ajaran para nabi, sejak nabi pertama hingga nabi terakhir, ada yang sudah sirna dan ada yang tidak. Di antara ajaran yang tidak pernah sirna adalah rasa malu. Hal ini menunjukkan bahwa rasa malu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama. Oleh karena itu harus mendapat perhatian yang mendalam.
Jika Tak Punya Rasa Malu Berbuatlah Sesukamu!
Ulama berbeda pendapat dalam memahami sabda Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam: “berbuatlah sesukamu”, sebagian memahami sebagai perintah dan sebagian yang lain memahami bukan sebagai perintah. Ulama yang memahami sebagai perintah, menjelaskan bahwa jika sesuatu yang hendak diperbuat tidak mendatangkan rasa malu maka lakukanlah sesuai dengan yang diinginkan. Dan ulama yang memahami bukan sebagai perintah, ada dua penjelasan yaitu:
  1. Maknanya sebagai ancaman. Ancaman bagi yang tidak memiliki rasa malu yang berbuat memperturutkan hawa nafsunya.
  2. Maknanya sebagai berita. Memberitakan barang siapa yang tidak memiliki rasa malu pasti akan berbuat sesuka hatinya.
Semua pendapat di atas memiliki kemungkinan benar

Lanjutkan Membaca..

Ikhlas


Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)[1]
Kedudukan Hadits
Materi hadits pertama ini merupakan pokok agama. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Ada Tiga hadits yang merupakan poros agama, yaitu hadits Úmar, hadits Aísyah, dan hadits Nu’man bin Basyir.” Perkataan Imam Ahmad rahimahullah tersebut dapat dijelaskan bahwa perbuatan seorang mukallaf bertumpu pada melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Inilah halal dan haram. Dan diantara halal dan haram tersebut ada yang mustabihat (hadits Nu’man bin Basyir). Untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan dibutuhkan niat yang benar (hadits Úmar), dan harus sesuai dengan tuntunan syariát (hadits Aísyah).

Setiap Amal Tergantung Niatnya
Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.

Fungsi Niat
Niat memiliki 2 fungsi:
1. Jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal (ma’bud), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan.
2. Jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya.

Pengaruh Niat yang Salah Terhadap Amal Ibadah
Jika para ulama berbicara tentang niat, maka mencakup 2 hal:

1. Niat sebagai syarat sahnya ibadah, yaitu istilah niat yang dipakai oleh fuqoha’.
2. Niat sebagai syarat diterimanya ibadah, dengan istilah lain: Ikhlas.
Niat pada pengertian yang ke-2 ini, jika niat tersebut salah (tidak Ikhlas) maka akan berpengaruh terhadap diterimanya suatu amal, dengan perincian sebagai berikut:

a. Jika niatnya salah sejak awal, maka ibadah tersebut batal.
b. Jika kesalahan niat terjadi di tengah-tengah amal, maka ada 2 keadaan:
- Jika ia menghapus niat yang awal maka seluruh amalnya batal.
- Jika ia memperbagus amalnya dengan tidak menghapus niat yang awal, maka amal tambahannya batal.

c. Senang untuk dipuji setelah amal selesai, maka tidak membatalkan amal.
Beribadah dengan Tujuan Dunia
Pada dasarnya amal ibadah hanya diniatkan untuk meraih kenikmatan akhirat. Namun terkadang diperbolehkan beramal dengan niat untuk tujuan dunia disamping berniat untuk tujuan akhirat, dengan syarat apabila syariát menyebutkan adanya pahala dunia bagi amalan tersebut. Amal yang tidak tercampur niat untuk mendapatkan dunia memiliki pahala yang lebih sempurna dibandingkan dengan amal yang disertai niat duniawi.

Hijrah
Makna hijrah secara syariát adalah meninggalkan sesuatu demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah artinya mencari sesuatu yang ada disisi-Nya, dan demi Rasul-Nya artinya ittiba’ dan senang terhadap tuntunan Rasul-Nya.

Bentuk-bentuk Hijrah:
1. Meninggalkan negeri syirik menuju negeri tauhid.
2. meninggalkan negeri bidáh menuju negeri sunnah.
3. Meninggalkan negeri penuh maksiat menuju negeri yang sedikit kemaksiatan.

Ketiga bentuk hijrah tersebut adalah pengaruh dari makna hijrah.

Lanjutkan Membaca..

Perhatian..!!!

Assalamualaikum Wr.Wb.
Untuk sementara blog ini masih dalam proses modifikasi design, jadi mohon maaf bila ada suatu hal yang membuat anda tidak berkenan... Syukron.. Wassalamualaikum Wr.Wb

Lanjutkan Membaca..

Amalan Sunnah 'Idul Fitri

Islam adalah satu-satunya agama yang diredhai oleh Allah serta agama paling sempurna. Firman Allah S.W.T:
Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan Aku telah redha Islam itu menjadi agamamu.
Surah al-Maaidah: 3
Kesempurnaan Islam itu terserlah apabila ia mampu menangani segala permasalahan manusia secara menyeluruh. Islam telah membicarakan isu-isu bersifat global seperti sistem ekonomi, sistem pemerintahan malah ia juga membicarakan sekecil-kecil perkaraseperti adab masuk ke tandas dan beristinjak. Oleh itu, tidak hairanlah sekiranya Islam juga telah memberikan garis panduan berkaitan tatacara menyambut hari-hari kebesarannya seperti hari raya Aidilfitri ini. Adalah penting bagi kita untuk sentiasa menjadikan al-Quran dan sunnah sebagai petunjuk dalam mengendalikan upacara sambutan Aidilfitri kerana inilah masa untuk kita semua membuktikan bahawa kita benar-benar telah menjadi seorang insan yang bertakwa setelah melalui bulan Ramadan kerana padanya terdapat ibadah puasa yang berupaya membentuk golongan muttaqin(orang yang bertakwa). Justeru itu, ada baiknya sekiranya kita mengetahui apakah amalan-amalan yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w sempena menyambutketibaan hari lebaran Aidilfitri ini.

Lanjutkan Membaca..

Haji

Menunaikan ibadah haji adalah sesuatu yang amat dirindukan oleh setiap umat Islam, bahkan oleh yang telah menunaikannya berkali-kali sekalipun. Karena itu, bagi yang dimudahkan Allah untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini agar menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Sebab, belum tentu kesempatan menunaikan ibadah haji itu datang kembali.
Agar bisa beribadah haji dengan sebaik-baiknya, sekhusyu' - khusyu'nya dan menjadi haji mabrur, di samping harus ikhlas kita harus memiliki ilmu yang cukup seputar bagaimana menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Hal-hal yang mewajibkan haji
  1. Islam
  2. Berakal
  3. Baliqh
  4. Merdeka
  5. Mampu : meliputi kemampuan materi dan fisik. Barangsiapa tidak mampu dengan hartanya untuk memenuhi biaya perjalanan, nafkah haji dan sejenisnya maka ia tidak berkewajiban haji.  Adapun orang yang mampu secara materil, tetapi tidak mampu secara fisik dan jauh harapan sembuhnya, seperti orang yang sakit menahun, orang yang cacat atau tua renta maka ia harus mewakilkan hajinya kepada orang lain. Dan disyaratkan orang yang mewakilinya sudah haji untuk dirinya sendiri.
  6. Dan bagi perempuan ditambah dengan satu syarat yaitu adanya mahram yang pergi bersamanya. Sebab haram hukumnya jika ia pergi haji atau safar (bepergian) lainnya tanpa mahram, berdasarkan sabda Nabi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
    ”Tidak (dibenarkan seorang) wanita bepergian kecuali dengan mahramnya." (Muttafaq Alaih).
    Jika seorang wanita pergi haji tanpa mahram maka ia berdosa tetapi hajinya tetap sah.

Rukun Haji.

Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan hajinya tidak syah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :
  1. Ihram, Yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk haji atau umrah di Miqat Makani.
  2. Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, zikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.
  3. Tawaf Ifadah, Yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.
  4. Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah.
  5. Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa'i.
  6. Tertib, yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.

Wajib Haji

Adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah ;
  1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram
  2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina)
  3. Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah
  4. Mabit di Mina pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
  5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
  6. Tawaf Wada', Yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.
  7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang waktu ihram

Jenis-Jenis Haji

HAJI TAMATTU`
Tamattu artinya bersenang-senang adalah  melaksanakan Ibadah  Umrah terlebih dahulu dan setelah itu baru melakukan Ibadah Haji. setelah selesai melaksanakan Ibadah Umran yaitu : Ihram, tawaf, Sa'i  jamaah boleh langsung tahallul, sehingga jama'ah sudah bisa melepas ihramnya. selanjutnya jama'ah tinggal menunggu tanggal 8 Zulhijah untuk memakai pakaian Ihram kembali dan berpantangan lagi untuk melaksanakan Ibadah Haji. Karena kemudahan itulah Jema'ah dikenakan "Dam" atau denda. yaitu menyembelih seekor kambing atau bila tidak mampu dapat berpuasa 10 hari. 3 hari di Tanah Suci, 7 hari di Tanah Air.
Bagi jema'ah yang lebih awal berada di Madinah persiapan ihramnya dilaksanakan di Madinah sedangkan Miqatnya dilakukan di  Bir Ali (Zulhulaifah),  di jalan raya menuju Mekah sekitar 12 KM dari kota Madinah.  Sedangkan bagi jema'ah yang datang belakangan dan langsung ke Mekah miqatnya dapat dilakukan di pesawat udara saat melintas batas miqat. Persiapan Ihram untuk ibadah Umrah sebaiknya dilakukan di tanah air sebelum berangkat.

Pelaksanaan Ibadah Umarah Haji Tamattu

Bagi Jama'ah haji yang baru berangkat ataupun telah sampai dapat melakukan niat dan melaksanakan tertib haji sebagai berikut :
  1. Persiapan Ihram :
  2. Memotong Kuku.
  3. Memotong rambut secukupnya.
  4. Mandi sunnat ihram.
  5. Memakai wangi-wangian.
  6. Memakai pakaian ihram.
MIQAT di Saudi. (Bir Ali, Rabiqh, Zatu Irqin, Qarnul Manazil dan Yalamlam) Ditempat Miqat ini jama'ah melakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Shalat sunnat ihram 2 rakaat, jika mungkin.
  2. Berniat Haji : Labbaika Allahumma' Umratan
  3. Diperjalanan ke Mekah membaca "Talbiah" sebanyak-banyaknya.
Tiba di Mekah jama'ah akan langsung masuk penginapan untuk istirahat sejenak, selama di mekah jema'ah melakukan kegiatan sebagai berikut :
  1. Umrah (Tawaf , Sa'i).
  2. atau Tawaf saja 7 kali keliling.
Apabila rangkaian ibadah tersebut sudah dilaksanakan, maka selesailah pelaksanaan ibadah Umrah. Jama'ah sudah boleh mengganti pakaian Ihram dengan pakaian biasa, sambil menunggu saatnya pelaksanaan ibadah Haji 8 Zulhijah. Jama'ah Haji Tamattu sudah boleh nelakukan apa saja yang terlarang selama Ihram.

Pelaksanaan Ibadah Haji Tamattu

Ibadah Haji dimulai dengan memakai pakaian dan niat Ihram pada tanggal 8 Zulhijah. Persiapan Ihram dilakukan di tempat penginapan Mekah, sedangkan shalat sunat dan niat Ihramnya bisa dilakukan di rumah atau Masjidil Haram. Niatnya : Labbaika Allahumma' Hajjan.

Haji Qiran

Yaitu Melaksanakan Ibadah  Haji dan Umrah secara bersamaan, dengan demikian prosesi tawaf, Sa'i dan tahallul untuk Haji dan Umrah dilakukan satu kali atau sekaligus. Karena kemudahan itulah Jema'ah dikenakan "Dam" atau denda. yaitu menyembelih seekor kambing atau bila tidak mampu dapat berpuasa 10 hari. Bagi yang melaksanakan Haji Qiran disunnatkan melakukan tawaf Qudum saat baru tiba di Mekah.
Miqat bagi jema'ah yang berada di Madinah ialah Bir Ali (Zulhulaifah). Sedangkan bagi jema'ah yang sudah berada di Mekah miqatnya dapat dilakukan di Tan'im atau Ji'ranah. yang datang ke Mekah pada hari yang mepet ke tanggal 9 Zulhijah, Miqatnya dapat dilakukan diatas pesawat saat melintas daerah miqat.

Pelaksanaan Haji Qiran

MIQAT ditanah air. Bagi yang memilih miqat ditanah air hendaknya melakukan persiapan ihram untuk haji sabagai berikut :
  1. Memotong Kuku.
  2. Memotong rambut secukupnya.
  3. Mandi sunnat ihram.
  4. Memakai wangi-wangian.
  5. Memakai pakaian ihram.

MIQAT di Saudi.

Jama'ah haji yang datang ketanah suci lebih awal biasanya akan berangkat duluan ke Madinah. Nanti mendekati "Hari Arafah" 9 Zulhijah baru menuju Mekah. Miqat dilaksanakan ditanah suci yaitu disalah satu tempat. Ditempat Miqat ini jama'ah melakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Shalat sunnat ihram 2 rakaat, jika mungkin.
  2. Berniat Haji : Labbaika Allahumma' Hajjan.
  3. Diperjalanan ke Mekah banyak-banyak membaca "Talbiah"
Tiba di Mekah jama'ah akan langsung masuk penginapan untuk istirahat sejenak, selama di mekah jema'ah melakukan kegiatan sebagai berikut :
  1. Melakukan Tawaf Qudum (Tawaf sunnat waktu baru tiba di Mekah).
  2. Boleh langsung Sa'i Setelah Tawaf Qudum, atau boleh juga sesudah tawaf Ifadah.
  3. Jika melakukan Sa'i tidak boleh langsung bertahallul, sampai selesai seluruh kegiatan Ibadah Haji.
Sesudah tawaf Qudum dan Sa'i jama'ah menunggu waktu pelaksanaan haji yang dimulai tanggal 8 Zulhijah. Dalam waktu menunggu pelaksanaan haji itu, jama'ah Haji Qiran harus tetap mengenakan pakaian Ihram, dan mematuhi semua larangan yang berkenaan dengan ihram.

Haji Ifrad

Yaitu Melaksanakan secara terpisah antara haji dan umrah, dimana masing-masing dikerjakan tersendiri, dalam waktu berbeda tetapi tetap dilakukan dalam satu musim haji. Pelaksanaan ibadah Haji dilakukan terlebih dahulu selanjutnya melakukan Umrah dalam satu musim haji atau waktu haji.
Dibatas miqat sebelum memasuki Mekah jemaah haji harus sudah memakai pakaian ihram serta niat untuk melaksanakan "Ibadah Haji" sekaligus "Ibadah Umrah". Jama'ah harus tetap berpakaian ihram sampai selesai melaksanakan kedua ibadah tersebut yaitu sejak tiba di Mekah sampai lepas hari Arafah 9 Zulhijah. Selama memakai pakaian ihram segala larangan harus ditaati  dan jema'ah yang memilih haji ifrad disunatkan melakukan Tawaf Qudum, yaitu tawaf sunat saat baru tiba di Mekah. Haji Ifrad memang paling berat tetapi juga paling tinggi kualitasnya karena itu yang melaksanakan Haji Ifrad tidak dikenakan Dam atau denda

Pelaksanaan Haji Ifrad

MIQAT ditanah air. Bagi yang memilih miqat ditanah air hendaknya melakukan persiapan ihram untuk haji sabagai berikut :
  1. Memotong Kuku.
  2. Memotong rambut secukupnya.
  3. Mandi sunnat ihram.
  4. Memakai wangi-wangian.
  5. Memakai pakaian ihram.
  6. MIQAT di Saudi. Jama'ah haji yang datang ketanah suci lebih awal biasanya akan berangkat duluan ke Madinah. Nanti mendekati "Hari Arafah" 9 Zulhijah baru menuju Mekah. Miqat dilaksanakan ditanah suci yaitu disalah satu tempat. Ditempat Miqat ini jama'ah melakukan hal-hal sebagai berikut :
  7. Shalat sunnat ihram 2 rakaat, jika mungkin.
  8. Berniat Haji : Labbaika Allahumma' Hajjan.
  9. Diperjalanan ke Mekah banyak-banyak membaca ;Talbiah
  10. Tiba di Mekah jama'ah akan langsung masuk penginapan untuk istirahat sejenak, selama di mekah jema'ah melakukan kegiatan sebagai berikut :
  11. Melakukan Tawaf Qudum (Tawaf sunnat waktu baru tiba di Mekah).
  12. Setelah Tawaf boleh langsung Sa'i tetapi tidak boleh tahallul karena Jema'ah haji ifrad boleh tahallul nanti setelah Tawaf dan Sa'i haji dilaksanakan.

Pelaksanaan Umarah Ifrad

Setelah melaksanakan "Ibadah Haji"jema'ah harus bersiap lagi untuk melaksanakan "Ibadah Umrah". Persiapan ihram dilakukan dipenginapan di Mekah, dan Miqatnya di Tan'im atau Ji'ranah. Rincian Ibadah Umrah untuk Haji Ifrad adalah sebagai berikut :
  1. Melakukan persiapan ihram.
  2. Mandi sunnat ihram.
  3. Memotong Kuku.
  4. Memotong rambut secukupnya.
  5. Memakai wangi-wangian.
  6. Memakai pakaian ihram, berangkat ke batas Miqat di Tan'im atau Ji'ranah. Disini jama'ah melakukan hal-hal sebagai berikut ;
  7. Shalat sunat ihram 2 rakaat.
  8. Melafazkan niat umrah : (Labbaika Allahuma Umratan).
  9. Berangkat ke Mekah dan dalam perjalanan membaca Talbiyah sebanyak-banyaknya.
  10. Di Mekah jama'ah melakukan hal-hal sebagai berikut.
  11. Tawaf Umrah
  12. Melaksanakan Sa'i
  13. Tahallul

Umrah

Ibadat Umrah

Umrah ialah Haji kecil, ia diambil dari perkataan al-I'timar iaitu (ziarah). Orang yang mengerjakan Umrah akan berniat Ihram Umrah dari miqat, mengerjakan Tawaf Qudum, bersaie dan seterusnya bertahallul dari Ihramnya dengan bercukur atau bergunting.

Rukun Umrah

  1. Ihram, Yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk umrah di Miqat Makani.
  2. Tawaf Umrah, Yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali
  3. Sa'i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali.
  4. Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut
  5. Tertib, yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.

Wajib Umrah

  1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram
  2. Tidak berbuat yang diharamkan dalam berumrah

    kami angkat dari : http://www.islamgrid.gov.my/articles/ibadah/haji.php

Lanjutkan Membaca..

Qurban

Qurban

Dari segi bahasa, korban bermaksud sesuatu yang dikorbankan kerana Allah subhanahu wata‘ala.  Dari sudut syara‘, korban bermaksud menyembelih binatang yang tertentu pada masa-masa yang tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata‘ala.

Pensyari'atan Dan Hikmahnya

Korban telah disyari‘atkan pada tahun kedua hijrah sama seperti ibadah zakat dan sembahyang Hari Raya.
Firman Allah subhanahu wata‘ala:
Maksudnya:
“Maka kerjakanlah sembahyang kerana Tuhanmu dan sembelihlah korban (sebagai tanda syukur)”
(Surah Al-Kauthar 108:2)
Hikmah disyari‘atkan korban ialah sebagai tanda bersyukur kepada Allah subhanahu wata‘ala di atas segala nikmatNya yang berbagai dan juga di atas kekalnya manusia dari tahun ke tahun.
Ia juga bertujuan menjadi kifarah bagi pelakunya, sama ada disebabkan kesilapan-kesilapan yang telah dilakukan ataupun dengan sebab kecuaiannya dalam menunaikan kewajipan di samping memberikan kelegaan kepada keluarga orang yang berkorban dan juga mereka yang lain.
Korban tidak memadai dengan menghulurkan nilai harganya, berbeza dengan ibadah zakat fitrah yang bermaksud memenuhi keperluan golongan fakir, Imam Ahmad dikatakan menyebut amalan menyembelih korban adalah lebih afdhal daripada bersedekah dengan nilai harganya.

Hukum Melakukan Korban

Hukum melakukan korban ialah sunnah mu’akkadah bagi sesiapa yang mampu melakukannya.

Sabda Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wasallam yang bermaksud:
 “Aku diperintahkan agar menyembelih qurban dan ia sunat bagi kamu”
(Riwayat Tirmizi)

Pembahagian Ibadah Korban

Terdapat dua jenis Korban iaitu korban wajib dan korban sunat.
  1. Korban Wajib
  2. Korban Nazar.
Contohnya apabila seseorang menyebut, “Kerana Allah wajib ke atasku berqurban seekor kambing atau seekor unta ini” ataupun dengan menyebut, “Aku jadikan kambing ini sebagai korban”
Sama sahaja hukumnya dalam hal sama ada yang menyebutnya itu seorang yang kaya ataupun seorang fakir. Binatang yang dibelikan untuk tujuan korban oleh seorang fakir. Apabila seorang fakir membeli seekor kambing dengan niat untuk dikorbankan, maka ia menjadi wajib. Ini kerana membeli dengan tujuan berkorban oleh seseorang yang tidak wajib melakukannya dikira wajib kerana perbuatan ini dikira sebagai satu nazar.

Korban Sunat
Korban sunat ialah korban yang dilakukan oleh seseorang yang berkemampuan melakukannya sama ada miskin ataupun yang bermusafir, yang tidak berniat nazar atau membeli dengan tujuan korban.

Syarat-Syarat Korban


Syarat korban dapat dibahagikan kepada 3 bahagian iaitu:
    1. Syarat Wajib/Sunat Korban.
    2. Syarat Sah Korban.
    3. Syarat Mereka Yang Dituntut Berkorban.
Syarat Wajib/Sunat Korban
  1. Untuk dijadikan ibadah korban wajib ataupun sunat adalah disyaratkan dia mampu melaksanakannya.
  2. Orang yang dianggap mampu ialah mereka yang mempunyai harga untuk binatang korban yang lebih daripada keperluannya dan keperluan mereka yang di bawah tanggungannya untuk hari raya dan hari–hari tasyrik kerana inilah tempoh masa bagi melakukan korban tersebut.
  3. Kedudukannya sama seperti dalam masalah zakat fitrah, mereka mensyaratkan ia hendaklah merupakan yang lebih daripada keperluan seseorang juga keperluan mereka yang di bawah tanggungannya pada hari raya puasa dan juga malamnya sahaja.

Syarat Sah Korban
  1. Hendaklah binatang yang diqurbankan itu tidak mempunyai sebarang kecacatan yang menyebabkan kekurangan kuantiti dagingnya ataupun menyebabkan kemudharatan terhadap kesihatan. Contohnya cacat yang teruk pada salah satu matanya, berpenyakit yang teruk, tempang atau kurus yang melampau.
  2. Hendaklah korban itu dalam masa yang tertentu iaitu selepas sembahyang Hari Raya Haji pada 10 Zulhijjah hingga sebelum terbenam matahari pada akhir Hari Tasyrik iaitu pada 13 Zulhijjah.
  3. Hendaklah disembelih oleh orang Islam.
  4. Orang yang berkongsi mengorbankan unta atau lembu tidak lebih dari tujuh orang di mana masing–masing menyumbang 1/7 bahagian.
Syarat Mereka Yang Dituntut Berkorban
    1. Islam.
    2. Merdeka.
    3. Aqil Baligh.
    4. Bermukim atau Musafir.
    5. Berkemampuan.
 Waktu Pelaksanaan Ibadah Korban

Waktu bagi menyembelih korban bermula setelah selesai sembahyang Hari Raya dan bacaan khutbahnya iaitu setelah naik matahari sekadar segalah. Masanya berterusan siang dan malam sehingga Hari Tasyrik yang akhir iaitu sebelum terbenam matahari pada hari tersebut. Ini berdasarkan hadis Nabi yang diriwayat oleh Al-Barra’ bin ‘Azib :
“Perkara pertama yang kita mulakan pada hari ini ialah bersembahyang, kemudian kita balik dan melakukan penyembelihan korban. Sesiapa yang melakukan demikian maka dia telah menepati sunnah kami. Sesiapa yang menyembelih sebelum itu, maka ia merupakan daging yang disediakan untuk ahli keluarganya. Ia tidak dikira sebagai ibadah khas (korban) ini sedikit pun.”

Binatang Korban

Perbincangan tentang binatang korban ini meliputi empat perkara :
  1. Jenis binatang yang diqurban.
  2. Umur binatang korban.
  3. Kadar binatang yang disembelih.
  4. Sifat–sifat binatang korban.
  1. Jenis Binatang Yang Dikorban
  2. Para ulama’ sependapat bahawa ibadah korban tidak sah kecuali dengan menggunakan binatang an‘am, iaitu binatang jinak yang berkaki empat seperti unta, lembu dan kerbau, kambing biri–biri dan semua yang termasuk dalam jenisnya, sama ada jantan atau betina. Oleh itu, tidak sah berkorban dengan menggunakan binatang yang lain daripada binatang an‘am ini seperti kerbau liar dan kijang.
    Firman Allah subhanahu wata‘ala:

    Maksudnya:
    Kami syari‘atkan ibadah menyembelih korban (atau lain-lainnya) supaya mereka menyebut nama Allah sebagai bersyukur akan pengurniaanNya kepada mereka: binatang-binatang ternak yang disembelih itu.”
    (Surah Al-Hajj 22:34)
    Tidak terdapat sebarang dalil sama ada yang dinaqalkan daripada Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam atau sahabat yang menunjukkan mereka berkorban dengan binatang selain daripada binatang-binatang ternakan (an‘am) ini. Oleh kerana korban merupakan satu ibadah yang dikaitkan dengan binatang, maka ia hanya ditentukan kepada binatang an‘am sahaja sama seperti ibadah zakat.
    Adapun binatang yang lebih afdhal dikorban ialah unta diikuti dengan lembu kemudian biri-biri atau kibasy kemudian kambing. Ini memandangkan kuantiti dagingnya yang lebih banyak bagi maksud pengagihan yang lebih meluas untuk fakir miskin.

    Nabi sallallahu ‘alayhi wasallam juga telah bersabda yang bermaksud:
      “Sesiapa yang mandi pada hari Jumaat dengan mandi junub, kemudian dia pergi (ke Jumaat) maka dia seolah-olah telah berkorban seekor unta. Sesiapa yang pergi pada saat kedua maka dia seolah-olahnya berkorban dengan seekor lembu. Sesiapa yang pergi pada saat ketiga maka dia seolah-olah berkorban dengan seekor kibasy yang bertanduk.”
  3. Umur Binatang Korban
  4. Umur binatang yang hendak dikorbankan berbeza-beza mengikut jenis binatang iaitu:
    1. Unta disyaratkan telah berumur lima tahun dan masuk ke umur enam tahun.
    2. Kambing dan lembu disyaratkan telah berumur dua tahun dan masuk ke umur tiga tahun.
    3. Kibasy disyaratkan telah memasuki umur dua tahun.
    4. Bagi anak unta, lembu, kambing dan kibasy yang telah berumur dua tahun lebih (yang telah bersalin gigi) harus dijadikan korban.
  5. Kadar Binatang Yang Disembelih
  6. Para fuqaha’ bersepakat mengatakan bahawa seekor kambing atau kibasy hanya mencukupi sebagai korban untuk seorang sahaja. Seekor unta atau lembu pula mencukupi untuk menjadi korban bagi tujuh orang. Ini berdasarkan hadith Jabir:
    “Kami berkorban bersama Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam semasa di Hudaybiyah dengan seekor unta atau seekor lembu untuk tujuh orang.”
    Dalam riwayat Muslim pula menyebut :
    “Kami keluar bersama Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam dan kami berniat Haji. Maka Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah memerintahkan kami supaya berkongsi mengorbankan seekor unta atau seekor lembu. Setiap tujuh orang berkongsi seekor unta.”
  7. Sifat–Sifat Binatang Korban
  8. Sifat–sifat binatang korban sama ada betina atau jantan yang digariskan oleh syara‘ adalah seperti berikut:
    1. Terang penglihatannya iaitu tidak buta.
    2. Tidak cacat seperti kudung kaki, putus ekornya, terpotong hidungnya atau sebagainya.
    3. Gemuk, tidak harus pada binatang yang terlalu kurus.
    4. Ciri-ciri yang afdhal terdapat pada binatang korban itu:
    5. Gemuk pada keseluruhan anggotanya.
    6. Bertanduk.
    7. Putih warna bulunya (pada kibasy).
    8. Jantan.

Sifat yang makruh pada binatang korban:

  1. Rabit telinganya.
  2. Terpotong sedikit bahagian belakang atau depan telinganya.
  3. Tidak mempunyai tanduk sejak asalnya.
  4. Patah tanduk sebelah atau keduanya atau pecah bahagian tanduknya.
  5. Tanggal sebahagian giginya disebabkan tua atau jatuh.
  6. Kabur penglihatannya.

Perkara Sunat Ketika Berkorban

  1. Sunat menambat binatang yang hendak diqurbankan itu beberapa hari sebelum disembelih.
  2. Digantung tanda pada binatang yang hendak dikorbankan.
  3. Dibawa dengan baik dan ihsan ketika ke tempat penyembelihan.
  4. Disunatkan juga orang yang berkorban menyembelihnya.
  5. Sunat dihadapkan ke arah qiblat ketika menyembelih korban.
  6. Sunat memilih binatang yang paling gemuk, terelok dan terbesar untuk dijadikan korban.
  7. Sunat digunakan alat yang paling tajam dan diperbuat daripada besi.
  8. Setelah selesai disembelih maka sunat ditunggu sehingga binatang yang disembelih itu sejuk dan semua anggota tidak bergerak lagi.
  9. Sunat bagi mereka yang mahu melakukan korban tidak bercukur dan tidak memotong kukunya setelah tiba bulan Zulhijjah sehingga telah selesai berkorban.
    1. Binatang korban sunat dibaringkan di atas rusuk kiri sebelum dilakukan penyembelihan.
    2. Sunat ketika sembelihan korban dilakukan adalah seperti berikut:
    3. Membaca basmalah.
    4. Bersalawat ke atas Nabi Muhammad.
    5. Binatang diarahkan ke arah qiblat.
    6. Bertakbir sebelum atau selepas membaca basmalah.
    7. Berdoa.
     
  10. Orang yang berkorban hendaklah membaca doa seperti berikut :
  11. “Ya Allah, ini adalah nikmat yang datang dariMu dan dengannya aku mohon untuk dapat mendampingiMu.”
  12. Sunat wakil yang melakukan sembelihan menyebutkan orang yang mewakilkannya seperti:
  13. “Dengan nama Allah dan Engkau Yang Maha Besar, ini daripadaMu dan untukMu.Terimalah Ya Allah daripada si pulan, si pulan.....”

Perkara Makruh Ketika Berkorban

  1. Berlaku kasar kepada binatang yang hendak dikorbankan seperti mengheret atau memukul semasa membawa ke tempat sembelihan atau seumpamanya.
  2. Memerah susu atau menggunting bulu atau mengambil sebarang faedah dari binatang yang hendak dijadikan korban.
  3. Tidak menghadapkan ke arah qiblat semasa sembelihan dilakukan
  4. Bercukur atau memotong kuku setelah tiba bulan Zulhijjah hingga penyembelihan korban selesai dijalankan.
  5. Binatang yang telah dibeli untuk tujuan korban adalah makruh dijual kerana ia telah ditentukan untuk korban.

Hukum Daging Korban

  1. Korban yang wajib iaitu yang dinazarkan ataupun yang ditentukan sama ada dengan menyebut, “Ini adalah korban”, maka orang yang berkorban tidak boleh memakannya. Dia wajib menyedekahkan semuanya sekali.
  2. Anak kepada binatang korban yang ditentukan juga, perlu disembelih seperti ibunya, tetapi bezanya ia boleh dimakan kesemuanya oleh tuan yang mengorbankannya kerana disamakan dengan hukum susu, kerana tuannya harus meminum susu binatang korban yang selebih daripada anaknya walaupun perbuatan itu makruh.
  3. Bagi korban sunat, maka tuannya sunat memakannya, iaitu yang afdhalnya dia hendaklah memakannya beberapa suap sebagai mengambil berkat.Ini bersesuaian  dengan firman Allah subhanahu wata‘ala:

    Maksudnya:
    Dengan yang demikian makanlah kamu dari (daging) binatang-binatang qurban itu dan berilah makan kepada orang yang susah, yang fakir miskin.
    (Surah Al-Hajj, 22:28)
  4. Hadith yang diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi pula ada menyebut bahawa Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah memakan sebahagian daripada hati binatang korbannya. Hukum memakan daging korban pula tidak wajib, ini berdasarkan firman Allah subhanahu wata‘ala

Maksudnya:
Dan Kami jadikan unta (yang dihadiahkan kepada fakir miskin Makkah itu) sebahagian dari syi‘ar agama Allah untuk kamu, pada menyembelih unta yang tersebut ada kebaikan bagi kamu.
(Surah Al-Hajj, 22:36)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahawa ia dijadikan untuk kita. Setiap perkara yang dijadikan untuk manusia, maka dia diberi pilihan sama ada mahu memakannya atau tidak.
  1. Orang yang berkorban juga boleh menjamu kepada kalangan yang kaya, tetapi tidak boleh diberi milik kepada mereka. Yang boleh cuma dihantar kepada mereka sebagai hadiah yang mana mereka tidak akan menjualnya atau sebagainya
    .
  2. Mengikut pendapat dalam qawl jadid, orang yang berkorban boleh memakan sebahagian daripada korbannya. Mengikut qawl qadim pula harus memakan sebanyak separuh, manakala bakinya hendaklah disedekahkan.
  3. Sebahagian ulama’ berpendapat daging korban dibahagikan kepada tiga bahagian iaitu 1/3 daging disedekahkan dalam keadaan mentah, 1/3 daging dimasak dan dibuat jamuan dan 1/3 daging dimakan oleh orang yang berkorban.
  4. Pendapat yang asahpula, adalah wajib bersedekah dengan sebahagian daripada daging korban walaupun sedikit kepada orang Islam yang fakir walaupun seorang. Walaubagaimanapun, yang lebih afdhal hendaklah disedekahkan kesemuanya kecuali memakannya beberapa suap untuk mengambil keberkatan seperti yang telah dijelaskan.
  5. Bagi korban sunat pula, orang yang berqurban boleh sama ada bersedekah dengan kulit binatang tersebut atau menggunakan sendiri, seperti mana dia harus mengambil faedah daripada binatang itu semasa hidupnya. Tetapi bersedekah adalah lebih afdhal. Bagi korban yang wajib  pula, kulit binatang itu wajib disedekahkan.
  6. Korban juga tidak harus dibawa keluar dari negeri asalnya sebagaimana yang ditetapkan dalam masalah membawa keluar zakat.

Sumber : www.al-azim.com

Lanjutkan Membaca..

Menuntut Ilmu

Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Sebenarnya banyak ayat Al-Quran dan As-Sunnah yang memerintahkan kita agar menuntut ilmu dan kelebihan-kelebihan menuntut ilmu itu.

Maksud firman Allah s.w.t:
“Maka tanya oleh mu akan orang yang ahli zikri (orang yang alim) jikalau kamu tidak mengetahui”.
 
Maksud sabda Rasulullah s.w.w pula yang bermaksud :
“Sesungguhnya sesuatu bab daripada ilmu yang dipelajari oleh seorang lelaki terlebih baik baginya daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya”

Lanjutkan Membaca..